“Dana abadi pendidikan itu berasal dari pajak rakyat. Maka semangatnya harus keadilan sosial. Jangan sampai tanpa kita sadari, yang menikmati secara berulang hanya kelompok sosial tertentu. Negara harus hadir memberi afirmasi agar yang lemah juga punya tangga untuk naik,” tutup Sarmuji.
Cukup Saya WNI, Anak Saya Jangan
Sebagai informasi, Kasus ini bermula ketika akun Instagram @sasetyaningtyas (DS) mengunggah momen ‘unboxing’ surat pernyataan dari Home Office Inggris dan paspor untuk anaknya.
Dalam video itu, ia berucap, “I know the world seems unfair, tapi cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan, kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA itu.”
Akibat gelombang kecaman publik yang tak terbendung, DS akhirnya mengunggah klarifikasi dan permohonan maaf pada Jumat (20/2/2026). Ia mengakui bahwa pilihan kata-katanya keliru dan seolah merendahkan paspor Garuda.
“Saya menyadari sepenuhnya bahwa kalimat tersebut kurang tepat dan dapat dimaknai sebagai bentuk perendahan terhadap identitas sebagai Warga Negara Indonesia. Saya mengakui kesalahan saya,” tulisnya.





















































































































