“Rusia dan China pada dasarnya menggunakan Iran sebagai kartu tawar geopolitik terhadap Barat. Jika rezim saat ini semakin melemah, Rusia kemungkinan akan mencari jaminan dari pemerintahan Iran berikutnya ketimbang berinvestasi pada struktur yang runtuh. China pun akan melakukan hal serupa untuk mempertahankan sebagian pengaruhnya. Namun, keduanya menyadari hubungan dengan Iran pasca Republik Islam akan sangat berbeda,” ujarnya.
Sementara itu, Ghaedi berpandangan rezim Iran saat ini tetap ingin mempertahankan kedekatan dengan Rusia di tengah hubungan yang tegang dengan Barat.
“Teheran kemungkinan tidak akan mempertaruhkan kemitraan ini, terutama karena Rusia memiliki hak veto di Dewan Keamanan PBB,” pungkasnya.






























































































