UPDATE

ADVERTISMENT
ISLAM
ISLAM

Hangatnya Silaturahmi dan Khidmatnya Shalat Idul Fitri di Singapura

Menariknya, dua saf terdepan sempat dikosongkan untuk tamu VIP, seperti pengurus masjid dan pejabat. Namun, lima menit sebelum shalat dimulai, panitia kembali mengumumkan agar jamaah mengisi saf tersebut, sehingga saat takbir berkumandang, seluruh barisan sudah penuh dan tertata.

Shalat Idul Fitri dimulai tepat waktu dengan imam dari kalangan Melayu. Khutbah disampaikan oleh Nazaruddin bin Mohd. Nasir dengan tema “Kehidupan Dunia sebagai Ujian bagi Manusia.” Dalam khutbahnya, ia menekankan indahnya kehidupan beragama di Singapura serta pentingnya menjaga silaturahmi antarumat beragama.

Bahasa Melayu yang digunakan dalam khutbah terasa akrab dan mudah dipahami oleh jamaah asal Indonesia. Bagi jamaah yang kurang memahami, panitia menyediakan layar monitor berisi terjemahan bahasa Inggris di beberapa sudut masjid. Pada khutbah kedua, khatib juga menggunakan bahasa Inggris. Di sela khutbah, petugas tampak berkeliling membawa tas sedekah kepada jamaah.

Berita Lainnya:
Menjaga Istiqamah dalam Bulan Ramadhan

Usai doa penutup, jamaah sesi pertama mulai keluar, sementara jamaah sesi kedua sudah menunggu di luar. Kondisi ini sempat menimbulkan kepadatan di pintu masjid. Menariknya, mayoritas jamaah yang hadir bukan hanya dari kalangan Melayu, tetapi juga didominasi oleh warga asal India dan Bangladesh. Sementara itu, masyarakat Melayu Singapura umumnya melaksanakan shalat di masjid atau aula serbaguna di sekitar tempat tinggal mereka.

Berita Lainnya:
Sujud Terakhir di Rumah Allah: Kisah Istiqamah Kakek Safari yang Menyentuh Hati Jamaah

“Suasana Lebaran di Singapura ternyata tak jauh berbeda dengan di Aceh. Tradisi kuliner tetap menjadi bagian penting. Rumah-rumah warga Melayu menyajikan lontong dan rendang sebagai hidangan utama. Aneka kue khas Lebaran pun tersaji, beberapa di antaranya sangat mirip dengan kue tradisional Aceh seperti bhoi, keukarah, dan kue seupet,” ujarnya.

Bagi Syamsul Bahri, pengalaman ini bukan sekadar perjalanan, melainkan pertemuan kembali dengan nilai-nilai persaudaraan lintas negara yang telah terjalin lama. Sebuah bukti bahwa silaturahmi mampu melampaui batas geografis dan waktu.[]

image_print
1 2
Logo
Suara Netizen
Memuat konten netizen...
ADVERTISMENT
Update Terbaru
ADVERTISMENT
Orinews Logo
Update Terbaru
Memuat Artikel...
MEMUAT BERITA...
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Reaksi

Berita Lainnya