Turki menghadapi tekanan dari dua sisi sekaligus. Secara geografis berbatasan dengan Iran, negara ini berpotensi menghadapi arus pengungsi dan ketidakpastian geopolitik. Dari sisi ekonomi, bank sentral terpaksa menghentikan pelonggaran kebijakan moneter dan menguras cadangan devisa untuk menjaga stabilitas mata uang.
Sementara itu, negara-negara dengan kondisi ekonomi yang sudah rapuh menghadapi risiko paling besar. Sri Lanka, misalnya, sampai harus menetapkan hari libur tambahan untuk menghemat energi dan membatasi konsumsi bahan bakar. Pakistan juga mengambil langkah darurat seperti menaikkan harga bensin dan memangkas penggunaan energi di sektor publik.
Mesir menghadapi tekanan berlapis: selain kenaikan harga energi dan pangan, negara ini juga berisiko kehilangan pemasukan dari Terusan Suez dan sektor pariwisata. Pelemahan mata uang membuat beban utang luar negeri semakin berat.































































































