Presiden Trump dan para pembantunya dilaporkan tertawa terbahak-bahak mendengar laporan intelijen tersebut.
Ironi kian meruncing mengingat Iran adalah teokrasi yang secara sistematis mengeksekusi kaum gay di alun-alun publik.
Berdasarkan kawat diplomatik yang bocor di WikiLeaks, Mojtaba juga pernah menjalani serangkaian pengobatan medis di London terkait masalah fertilitas dan impotensi sebelum akhirnya memiliki anak.
Suara Kaum Gay
Di tengah pembahasan mengenai manuver intelijen tersebut, Trump beralih menyoroti peta politik domestik Amerika Serikat.
Dengan gaya khasnya yang blak-blakan, ia mengeklaim bahwa dirinya adalah presiden Republik yang paling dicintai oleh komunitas gay di Amerika.
“Saya mendapatkan suara yang sangat baik dari kaum gay. Saya bahkan memainkan lagu kebangsaan gay—Y.M.C.A dari Village People—sebagai penutup kampanye saya,” kata Trump dengan bangga.
Trump berpendapat bahwa fakta mengenai orientasi seksual Mojtaba akan menjadi “bumerang” mematikan bagi rezim Teheran yang selama ini mengeksekusi warganya sendiri atas tuduhan sodomi.
“Tidak ada Republikan yang pernah mendapatkan suara gay seperti saya. Mungkin karena saya berasal dari New York City,” tambahnya.
Apartheid Gender dan Nasib Komunitas LGBTQ+ di Iran
Di saat elite politik di Washington dan Teheran saling melempar retorika, nasib komunitas LGBTQ+ di Iran kian terjepit.
Organisasi HAM Hengaw mengklasifikasikan Iran sebagai negara “Gender Apartheid” pada Mei 2025.
Sejak revolusi 1979, diperkirakan 4.000 hingga 6.000 individu LGBTQ+ telah dieksekusi oleh rezim.
Kini, dengan naiknya Mojtaba ke puncak kekuasaan di tengah isu “daftar maut” dan rumor orientasi seksualnya sendiri, publik dunia melihat adanya kemunafikan luar biasa di jantung kekuasaan Teheran.
Sementara rakyat kecil dihukum mati karena identitasnya, sang pemimpin justru berlindung di balik jubah kekuasaan yang kebal hukum.
Dunia kini menanti, apakah “rahasia terbuka” yang dibeberkan CIA ini akan meruntuhkan legitimasi Mojtaba di mata rakyatnya sendiri, atau justru memicu penindasan yang lebih brutal di jalanan Teheran guna menutupi aib sang penguasa































































































