UPDATE

Salam.life
NASIONAL
NASIONAL

Kisah Bung Karno Minta Restu ke Raja Jayabaya Sebelum Proklamirkan Kemerdekaan Indonesia

BANDA ACEH –  Sang proklamator sekaligus presiden pertama Indonesia, Soekarno pernah mengunjungi Kediri untuk berziarah ke petilasan Raja Jayabaya.Bung Karno mengunjungi tempat keramat itu dalam rangka Ngalab Berkah sebelum Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Ia bahkan mengunjungi makam Raja Jayabaya sebanyak tiga kali.

Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto
ADVERTISEMENT

“Sebelum memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, presiden pertama negara baru itu, Soekarno, dikabarkan berziarah tiga kali ke Pamuksan Sri Aji Jayabaya,” kata George Quinn dalam buku “Wali Berandal Tanah Jawa”.

Menurut saksi mata, saat itu kunjungan terakhir Soekarno dilakukan hanya beberapa hari sebelum proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 dikumandangkan.

Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto
ADVERTISEMENT

“Aku datang ke sini untuk minta restu Raja Jayabaya,” demikian Soekarno menjelaskan kepada rombongannya.

“Aku ingin kalian semua membantuku,” ujarnya.

ADVERTISEMENT

Di situs Pamuksan Jayabaya, Bung Karno berdiam diri selama tujuh menit. Sebelum beranjak, Bung Karno kemudian berkata: ”Sudah direstui. Sekarang kita bisa pergi,” demikian dikutip dari “Wali Berandal Tanah Jawa”.

Sebagian orang meyakini Pamuksan Sri Aji Jayabaya atau Joyoboyo di Desa Mamenang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, sebagai tempat keramat. Sebagian orang pun mempercayai Raja Jayabaya tidak meninggal dunia melainkan moksa.

ADVERTISEMENT

Sri Aji Jayabaya yang memerintah Kerajaan Panjalu atau Kediri selama 24 tahun (1135-1159) tersohor sebagai raja adil dan bijaksana. Saat masa pemerintahan Jayabaya, hukum benar-benar ditegakkan.

Dalam “Prahara Bumi Jawa Sejarah Bencana dan Jatuh Bangunnya Penguasa Jawa”, Otto Sukatno CR menulis saat itu tidak ada orang yang dikurung sehingga penjara tidak diperlukan. Yang berlaku saat itu hanya hukuman denda. Mereka yang dinyatakan bersalah harus membayar denda dengan besaran yang ditentukan.

ADVERTISEMENT

“Sementara bagi pencuri, perampok dan penyamun, dan tindak-tindak kejahatan besar lainnya, langsung mendapat hukuman mati”.

Di masa pemerintahan Jayabaya, Kerajaan Panjalu atau Kediri dengan ibukota Dahanapura atau Daha, mencapai masa keemasannya. Jayabaya merupakan keturunan Raja Airlangga (1019-1042).

ADVERTISEMENT

Dia merupakan raja ketiga Panjalu setelah Airlangga membelah Kerajaan Kahuripan menjadi Kerajaan Panjalu dan Jenggala.

Dengan kekuatan dan kebijakan yang dimiliki, Jayabaya berhasil menyatukan Panjalu dan Jenggala yang bertahun-tahun berseteru dalam perang saudara. Jayabaya juga termasyhur dengan ramalannya yang dikenal bernama Jangka Jayabaya.

Jangka Jayabaya disusun dalam bentuk tembang (macapat) dan gancaran (prosa) serta aforisma-aforisma singkat dan padat sehingga mudah dihafalkan. Dalam ramalannya, Jayabaya mengatakan Pulau Jawa terbagi atas tiga jaman besar, yakni jaman Kali Swara atau zaman permulaan yang lamanya 700 tahun matahari atau 721 berdasarkan hitungan tahun bulan.

image_print
1 2
Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto
Logo
Suara Netizen
Memuat konten netizen...
Update Terbaru
Orinews Logo
MEMUAT BERITA...

Reaksi

Berita Lainnya

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ditemukan berita/artikel lainnya.