UPDATE

DUNIA
INTERNASIONALEROPA

Tidak Berniat Membelot dari NKRI, Satria Kumbara Gabung Militer Rusia demi Nafkahi Keluarga

BANDA ACEH – Ramai di media sosial unggahan yang memperlihatkan seorang pria mengaku mantan prajurit Marinir TNI Angkatan Laut (AL) dan sekarang menjadi anggota militer Rusia.

Sosoknya menjadi perhatian setelah dirinya mengaku membela Rusia dalam perang melawan Ukraina.

Kini, mantan marinir itu buka suara usai dirinya diperbincangkan publik di Indonesia.

Bahkan, Mabes TNI pun ikut berkomentar dan menjelaskan identitas pria itu.

TNI membernarkan bahwa pria itu bekas anggota marinir bernama Satria Arta Kumbara.

Sebelumnya, dari unggahan yang beredar, ada dua foto yang memperlihatkan sosok pria itu berseragam TNI AL dan seragam tentara Rusia.

Dalam foto pertama, terdapat foto pria menggunakan seragam militer Rusia dengan tulisan ‘Loh kok jadi tentara Russia??? Bukannya dulu Marinir???’.

Kemudian pada foto kedua, terlihat pria tersebut mengenakan pakaian dinas TNI AL berwarna putih lengkap dengan baret ungu khas Korps Marinir.

Foto tersebut diberikan tulisan ‘Iya dulu Marinir!!!!! Tapi itu dulu!!!’.

“Iya memang dulu marinir sekarang bertempur bersama rusia di ukraina,” demikian keterangan di akun TikTok @zstorm689.

Dalam akun itu, juga terdapat 2 unggahan lain yang menunjukkan pria tersebut berfoto dengan tentara dari negara lain.

Sementara itu, sadar jika dirinya diperbincangkan publik di Indonesia, Serda Satria Arta Kumbara angkat bicara.

Melalui video yang beredar, dia menyayangkan sikap pemerintah Indonesia yang mempermasalahkan dirinya bekerja sebagai prajurit bayaran.

Menurutnya, bekerja sebagai tentara bayaran merupakan haknya lantaran dia memiliki keahlian pada bidang tersebut.

Di sisi lain, dia mengkritik maraknya kasus korupsi di Indonesia.

“Agak lain memang negara Konoha. Maling duit rakyat dilindungin. Yang rakyat nyari duit di luar dengan passion dan skill sendiri diributin,” ujarnya dalam sebuah video dikutip Jumat (16/5/2025).

Satria mengungkapkan, alasan dirinya bekerja sebagai tentara Rusia tak lain adalah untuk mencari naskah untuk keluarganya.

“Gue begini karena sadar diri bukan circle-nya Reza Arap. Jadi nyari duit untuk keluarga ya seperti ini,” ungkapnya.

Berita Lainnya:
Mualem Perintahkan Distribusi Sembako dan Pembukaan Akses Wilayah Terisolir Dipercepat

Penjelasan TNI

Seperti dilansir HARIANACEH.co.id dari Kompas.com pada Sabtu (10/5/2025) ketika dikonfirmasi, Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal), Laksma TNI I Made Wira Hady Arsanta membenarkan bahwa pria yang berfoto mengenakan seragam tentara Rusia tersebut merupakan mantan prajurit TNI AL.

Made Wira mengatakan prajurit tersebut sudah dipecat atas tindakan meninggalkan tugas dan tanggung jawabnya tanpa izin resmi atau alasan yang sah (desersi).

“Serda Satria Arta Kumbara, NRP 111026, mantan anggota Itkormar (Inspektorat Korps Marinir). Desersi TMT. 13 Juni 2022 sampai dengan sekarang,” jelas Made Wira.

Made Wira juga menjelaskan mantan prajurit TNI AL tersebut sudah dijatuhi hukuman dalam putusan In Absensia (putusan pengadilan yang menjatuhkan hukuman atau sanksi terhadap seorang terdakwa tanpa kehadiran terdakwa tersebut dalam persidangan) Pengadilan Militer (Dilmil) II-08 Jakarta.

Dia menyebut putusan tersebut sudah berkekuatan hukum tetap.

“Putusan In Absensia Dilmil II-08 Jakarta, yang bersangkutan pidana penjara 1 tahun dan tambahan pidana dipecat berdasarkan putusan perkara nomor 56-K/PM.II-08/AL/IV/2023 tanggal 06/04/23 dan akte berkekuatan hukum tetap nomor AMKHT/56-K/PM.II-08/AL/IV/2023 tanggal 17/04/23,” terang Made Wira.

Dilihat di situs Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) Dilmil II-08 Jakarta, pria tersebut bernama Satria Arta Kumbara.

Satria dijatuhkan hukuman pidana pokok penjara selama 1 tahun dan pidana tambahan berupa dipecat dari dinas militer.

“Menyatakan Terdakwa tersebut di atas yaitu Satria Arta Kumbara, Serda Mar NRP 111026, terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana: “Desersi dalam waktu damai,” demikian keterangan di SIPP Dilmil II-08 Jakarta.

Sejak invasi besar-besaran ke Ukraina pada Februari 2022, Rusia mengalami kerugian besar dalam jumlah personel militer.

Kedua belah pihak baik Rusia dan Ukraina telah secara aktif merekrut tentara bayaran dan tentara kontrak, termasuk dari negara-negara asing, untuk menambah kekuatan tempur mereka.

Menurut data yang dilansir dari situs The New Voice of Ukraine, setiap bulan Rusia merekrut sekitar 8.000 hingga 9.000 tentara kontrak.

Berita Lainnya:
Nasib Penerima Bantuan Becak Listrik dari Prabowo: Awalnya Dibawa Pulang tapi Ditarik di Tengah Jalan

Dalam satu tahun, jumlah itu bisa mencapai lebih dari 130.000 orang.

Panglima Tertinggi Ukraina, Oleksandr Syrskyi, dalam wawancara dengan LB.ua yang diterbitkan pada 9 April 2025 mengatakan bahwa Rusia meningkatkan jumlah angkatan bersenjatanya sebanyak 8.000 hingga 9.000 setiap bulan berkat tentara kontrak. Uang selalu menjadi motivator bagi mereka.

Selain itu ia juga mengungkapkan bahwa tentara dari Korea Utara kini menjadi tulang punggung dari beberapa unit ofensif Rusia di medan perang, khususnya di wilayah Oblast Kursk.

Sudah terjadi dua gelombang pelatihan dan penempatan pasukan asing tersebut, menurut intelijen Ukraina.

Sementara itu, Wakil Menteri Pertahanan Ukraina, Letnan Jenderal Ivan Havryliuk, menyebut bahwa pada tahun 2024 Rusia merekrut setidaknya 427.000 personel baru, atau rata-rata 36.000 per bulan.

Tahun 2025, menurut Badan Intelijen Militer Ukraina (HUR), target rekrutmen Rusia mencapai 126.000 tentara baru.

Berapa Gaji Tentara Bayaran Rusia?

Isu penghasilan tentara bayaran menjadi perbincangan menyusul viralnya kabar Satria. Panglima Ukraina menyebut bahwa tentara asing yang bertempur untuk Rusia, terutama di unit elite atau garis depan, bisa menerima bayaran hingga US$ 40.000 per bulan tergantung posisi dan lokasi penugasan.

Namun, media independen The Moscow Times memberikan angka yang berbeda.

Dalam laporannya, tentara kontrak biasa di Rusia menerima gaji bulanan sekitar 200.000 rubel, setara dengan US$ 2.166 atau sekitar Rp 35 juta (kurs Mei 2025).

Angka ini sekitar 2,4 kali lebih tinggi dari gaji rata-rata pekerja sipil di Rusia.

Selain gaji, tentara kontrak juga dikabarkan mendapatkan berbagai fasilitas termasuk tunjangan keluarga, perumahan, dan kompensasi jika terluka atau gugur di medan perang.

Namun, tidak semua tentara asing menerima hak yang sama, tergantung dari jalur perekrutan dan legalitas status mereka di Rusia.

Meski gaji tentara bayaran tampak menggiurkan, risiko hukum, Politik, dan nyawa yang harus dibayar tidak bisa diabaikan.

Reaksi

Berita Lainnya

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ditemukan berita/artikel lainnya.

Uh-oh! It looks like you're using an ad blocker.

Our website relies on ads to provide free content and sustain our operations. By turning off your ad blocker, you help support us and ensure we can continue offering valuable content without any cost to you.

We truly appreciate your understanding and support. Thank you for considering disabling your ad blocker for this website