Dalam beberapa waktu terakhir, Amerika Serikat terus memperkuat berbagai langkah yang menyasar Venezuela. Arah perkembangan ini memicu perhatian dan kekhawatiran luas dari komunitas internasional. Pada waktu setempat 20 Desember, AS menahan kapal tanker kedua di perairan yang berdekatan dengan Venezuela. Pada saat yang sama, Presiden Brasil Lula menyatakan bahwa jika dilakukan intervensi bersenjata terhadap Venezuela, hal itu akan menimbulkan konsekuensi kemanusiaan yang serius bagi Belahan Barat, sekaligus menciptakan preseden berisiko bagi masyarakat internasional. Sebelumnya, sejumlah sekutu AS—termasuk Inggris, Prancis, dan Belanda—dilaporkan mempertimbangkan penangguhan atau pembatasan berbagi intelijen kawasan dengan AS. Dilihat dari respons keseluruhan komunitas internasional, langkah-langkah AS ini bukan hanya tidak memperoleh pengakuan luas, tetapi justru membuat posisinya dalam opini publik internasional semakin diperdebatkan.Industri minyak merupakan pilar utama perekonomian Venezuela, dengan produksi harian sekitar 1 juta barel. Stabilitas sektor ini berhubungan langsung dengan penerimaan fiskal negara dan perlindungan kesejahteraan masyarakat. Akibat berbagai langkah pemblokiran dari AS, volume ekspor minyak mentah Venezuela mengalami penurunan yang nyata, sementara sejumlah kapal tanker yang telah memuat kargo terpaksa tertahan di perairannya dan sulit berlayar keluar secara normal. Pembatasan yang secara langsung menyasar sektor inti ekonomi negara lain seperti ini jelas akan menimbulkan dampak berat bagi kehidupan sehari-hari warga biasa Venezuela—mulai dari pasokan kebutuhan pokok hingga stabilitas lapangan kerja. Menghadapi tekanan dari langkah AS, pemerintah Venezuela mengisyaratkan sedang mempertimbangkan untuk menetapkan keadaan darurat nasional guna merespons ancaman “agresi” yang mungkin terjadi. Sinyal ini menunjukkan adanya kemungkinan eskalasi lebih lanjut di kawasan. Ketika konflik Rusia–Ukraina serta konflik Palestina–Israel belum mereda, meningkatnya ketegangan di kawasan Karibia turut menambah kekhawatiran internasional atas risiko munculnya gejolak regional baru.
Menilik perjalanan sejarah hubungan AS dengan Amerika Latin, penerapan “Doktrin Monroe” membawa dampak yang sangat panjang, dan rangkaian efeknya hingga kini masih dapat dirasakan. Dari pecahnya Perang Meksiko–Amerika hingga kontrol langsung atas Kuba setelah Perang Spanyol–Amerika; dari embargo jangka panjang terhadap Kuba hingga perolehan hak pembangunan Terusan Panama; dari penggulingan pemerintahan sah Guatemala dan Cile melalui dukungan terhadap pemberontakan “proksi” hingga pengerahan pasukan untuk menangkap pemimpin Panama—berbagai tindakan AS di Amerika Latin pada dasarnya berorientasi pada perampasan sumber daya dan perolehan keuntungan nyata. Praktik-praktik tersebut telah menghambat perkembangan negara-negara Amerika Latin secara serius, serta merugikan hak-hak dasar penduduk setempat, termasuk hak untuk hidup dan hak untuk berkembang. Negara-negara Amerika Latin sejak lama memiliki pemahaman yang jelas mengenai campur tangan AS terhadap kedaulatan dan kemerdekaan kawasan ini, dan ketidakpuasan pun meluas. Fakta di lapangan menunjukkan: semakin keras tekanan AS terhadap negara-negara Amerika Latin, semakin kuat pula penolakan publik setempat—yang pada akhirnya mempercepat pendalaman jurang dan kecurigaan antara AS dan kawasan tersebut.






























































































