MEULABOH – Maraknya judi online dan krisis keteladanan menjadi perhatian dalam Beut NU Warong Kopi Agrowisata Gampong Kuta Padang Edisi ke-16, Sabtu, malam (4/10/26).
Kegiatan yang digelar PCNU Aceh Barat itu tidak hanya menjadi ruang pengajian, tetapi juga forum membahas berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat, khususnya generasi muda dan petani.
Tokoh muda NU, Aduen Munzir, mengatakan Islam moderat harus dipahami secara seimbang dan tidak secara hitam-putih.
“Islam moderat itu seperti melihat dua sisi mata uang. Tidak bisa hanya melihat satu sisi. Harus seimbang antara pemenuhan kebutuhan duniawi dan ukhrawi,” ujar Munzir.
Menurutnya, generasi muda saat ini menghadapi tantangan serius, mulai dari judi online, dekadensi moral hingga krisis keteladanan.
“Siapakah yang bertanggung jawab terhadap anak muda hari ini yang dihadapkan dengan berbagai fenomena judi online, dekadensi moral, dan krisis keteladanan? Tanggung jawab ada di kita semua,” tegasnya.
Munzir menilai krisis keteladanan menjadi salah satu persoalan utama dalam kemerosotan moral generasi muda. Karena itu, pendidikan harus melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter, kepedulian sosial, dan tujuan hidup.
Ia juga menekankan pentingnya ta’zim kepada guru sebagai bagian dari pembentukan karakter generasi muda.
NU Diminta Perkuat Advokasi Petani
Persoalan petani turut menjadi perhatian dalam forum tersebut. Khaisar dari Advokasi Petani Aceh mengajak NU Aceh Barat memperkuat kolaborasi dalam mengadvokasi petani, terutama generasi muda.
Menurutnya, advokasi petani harus melihat kondisi sosial dan budaya masyarakat Aceh. Ia juga mengajak anak muda menggunakan media sosial untuk kegiatan yang produktif dan positif.
“Advokasi petani hadir dalam konteks sosial, budaya, dan melahirkan generasi moderat. Ilmu itu wajib belajar pada guru. Hari ini media sosial harus kita gunakan secara positif,” ujarnya.
Khaisar kemudian menyampaikan pesan dalam bahasa Aceh, “Mak keu aneuk geutanyoe jak mita, donya tapubut akhirat tatuntut.”
Pesan tersebut bermakna bahwa anak merupakan titipan yang harus dijaga, sementara kehidupan dunia dijalani dan bekal akhirat tetap dituntut.
Empat Prinsip Islam Moderat
Sementara itu, Waled Dr. H. Khairul Azhar, MA, mengingatkan bahwa agama hadir membawa nilai-nilai kebaikan dan mengajarkan umat untuk bersikap ramah serta santun terhadap sesama.
Ia menyebut NU memiliki empat prinsip utama dalam menguatkan Islam moderat, yakni tawassuth atau jalan tengah, tawazzun atau keseimbangan, tasammuh atau toleransi, serta i’tidal/a’dalah atau keadilan.
Diskusi kemudian berkembang pada persoalan anak muda yang menghabiskan waktu di warung kopi hingga terjerumus dalam judi online.
Peserta juga membahas semakin bergesernya penghormatan anak terhadap guru serta pola pemberian sanksi kepada siswa dan santri.
Forum mendorong para guru untuk menjadi teladan, termasuk dalam penggunaan telepon seluler saat mengajar. Hukuman kepada peserta didik juga diharapkan tetap bersifat mendidik dan tidak berlebihan.
Peserta berharap NU terus memperluas kerja-kerja advokasi keumatan dan hadir memberikan solusi terhadap persoalan masyarakat.
Kegiatan tersebut mendapat dukungan Geuchik Gampong Kuta Padang, Safrizal, dan Ketua Tuha Peut setempat.
Menurutnya, Beut NU di warung kopi menjadi ruang positif bagi generasi muda untuk memperkuat akidah sekaligus membangun kepedulian terhadap persoalan sosial.
Melalui Beut NU edisi ke-16, NU Aceh Barat diharapkan semakin aktif menjadi jembatan antara ulama dan masyarakat dalam merawat Islam moderat serta menjawab persoalan generasi muda dan petani di tingkat akar rumput.[]































































































Beri Komentar