Jumat, 26/04/2024 - 15:35 WIB
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi

TERBARU

EROPAINTERNASIONAL

Finlandia Sambut Sinyal Positif Erdogan Soal Keanggotaan NATO

ADVERTISEMENTS

Finlandia dan Swedia terus mencari jalan bersama untuk menjadi anggota NATO.

ADVERTISEMENTS
Ucapan Selamat Memperingati Hari Kartini dari Bank Aceh Syariah
ADVETISEMENTS
Ucapan Belasungkawa Zakaria A Rahman dari Bank Aceh

HELSINKI – Menteri Luar Negeri Finlandia Pekka Haavisto mengomentari pernyataan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang mengisyaratkan siap menyetujui keanggotaan Helsinki di Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Menurut Haavisto, itu merupakan sinyal positif.

ADVERTISEMENTS
Ucapan Selamat dan Sukses atas Pelantikan Reza Saputra sebagai Kepala BPKA

Haavisto mengatakan, dia tetap optimistis bahwa negaranya bisa bergabung dengan NATO. Terlepas dari komentar Erdogan, Haavisto menilai, tidak ada halangan bagi Finlandia, termasuk Swedia, untuk menjadi anggota NATO. “Pemahaman saya adalah tidak ada halangan mendasar bagi kedua negara untuk menjadi anggota,” ujarnya dalam sebuah konferensi pers, Senin (30/1/2023).

ADVERTISEMENTS
Manyambut Kemenangan Idul Fitri 1445 H dari Bank Aceh Syariah

Dia mengungkapkan, Finlandia dan Swedia terus mencari jalan bersama untuk menjadi anggota NATO. Haavisto berharap ratifikasi keanggotaan dapat diselesaikan dalam pertemuan puncak para pemimpin negara anggota NATO pada Juli mendatang.

ADVERTISEMENTS

Akhir pekan lalu, Erdogan, untuk pertama kalinya mengatakan, Turki bisa saja mengubah sikapnya atas Finlandia terkait keinginan negara tersebut menjadi anggota NATO. Erdogan tampaknya hendak mengirim pesan khusus kepada Swedia yang juga sedang berupaya memperoleh keanggotaan NATO.

ADVERTISEMENTS
Mudahkan Hidup Anda!, Bayar PBB Kapan Saja, Di Mana Saja! - Aceh Singkil
Berita Lainnya:
Ancaman Korut Jadi Pembahasan Utama Korsel dan NATO

“Bila perlu, kami bisa memberikan tanggapan yang berbeda mengenai Finlandia. Swedia akan terkejut ketika kita memberikan tanggapan yang berbeda,” kata Erdogan dalam pertemuannya dengan para pendukungnya dari kalangan pemuda, Ahad (20/1/2023).

Turki dan Hongaria adalah dua negara anggota NATO yang masih menolak aksesi Swedia serta Finlandia ke organisasi pertahanan multilateral tersebut. Parlemen Hongaria diperkirakan akan menyetujui permohonan aksesi Helsinki dan Stockholm pada Februari mendatang. Sementara itu, Turki tampaknya masih akan mempertahankan penolakannya, khususnya terhadap Swedia.

Dalam pertemuan dengan para pendukung mudanya pada Ahad lalu, Erdogan kembali menyerukan Swedia agar mengekstradisi orang-orang yang tengah diburu Turki dari negaranya. Menurut Erdogan, orang-orang tersebut adalah para aktor yang terlibat upaya kudeta terhadap pemerintahannya pada 2016 dan tersangka teror dari kelompok milisi Kurdi.

“Jika Anda (Swedia) benar-benar ingin bergabung dengan NATO, Anda akan mengembalikan para teroris ini kepada kami. Anda akan mengirimkan para teroris ini kepada kami sehingga dapat bergabung dengan NATO,” kata Erdogan.

Berita Lainnya:
Polisi Yordania Pukuli Pengunjuk Rasa Anti-Israel

Penolakan Turki terhadap aksesi Swedia ke NATO telah diwarnai aksi pembakaran Alquran oleh politisi sayap kanan berkebangsaan Swedia-Denmark, Rasmus Paludan. Pada Jumat (27/1/2023) lalu, Paludan untuk kedua kalinya dalam sepekan, membakar Alquran di depan sebuah masjid serta Kedutaan Besar Turki di Kopenhagen, Denmark. Aksinya mendapat pengawalan kepolisian Denmark. Sebelumnya, pada 21 Januari lalu, dia telah melakukan aksi serupa di dekat Kedutaan Besar Turki di Stockholm, Swedia.

Paludan telah berjanji akan terus membakar Alquran hingga Swedia dan Finlandia memperoleh keanggotaan NATO. “Begitu dia (Recep Tayyip Erdogan) membiarkan Swedia bergabung dengan NATO, saya berjanji tidak akan membakar Alquran di luar kedutaan besar Turki. Jika tidak, saya akan melakukannya setiap Jumat pukul 2 siang,” ujar Paludan setelah melakukan pembakaran Alquran di Kopenhagen.

Aksi pembakaran Alquran oleh Paludan telah memicu protes dan kecaman dari negara-negara Muslim, termasuk Indonesia.

Sumber: Republika

x
ADVERTISEMENTS

Reaksi & Komentar

Berita Lainnya

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ditemukan berita/artikel lainnya.
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi