ADVERTISMENT
OPINI
OPINI

Operasi Plastik Revolusi Suriah

Nadi dan jiwa revolusi Suriah adalah Islam, Allah telah menepati janji-Nya dengan memberikan kemenangan kepada hamba-hamba-Nya. Seluruh dunia Islam mengucap syukur dan berdoa semoga peristiwa Musim Semi Arab di 2011 tidak terulang kembali. Hingga dalam sekejap satu persatu tirai mulai tersingkap.

Dimulai dari fakta yang disampaikan oleh Ibrahim Rihan dalam tulisannya di asamedia.com pada Senin (9/12/2024) menyampaikan bahwa beberapa jam terakhir sebelum jatuhnya rezim Suriah dan presidennya, Bashar al-Assad, mengadakan pertemuan publik dan rahasia untuk membahas era pasca-Assad. Yang paling menonjol adalah pertemuan rahasia di kota Gaziantep di Turki. Gaziantep merupakan tempat ruang operasi utama faksi oposisi berada.

Asas media mengungkap bahwa forum itu mempertemukan badan-badan intelijen Barat dan Arab, sebelum pertemuan para menteri luar negeri Qatar, Turki, Iran dan Rusia di ibu kota Qatar, Doha untuk menyiapkan  “kejatuhan besar”. Pertemuan tersebut dihadiri oleh kepala Badan Intelijen Turki, Ibrahim Kalin, kepala Badan Keamanan Negara Qatar, Khalfan Al-Kaabi, kepala CIA, William Burns, dan perwakilan badan intelijen Teluk, selain perwakilan dari pasukan faksi oposisi.

Berita Lainnya:
Membaca Ulang Kasus SPPD Aceh Besar — Antara Kesalahan Administratif dan Tuduhan Niat Jahat

Pertemuan tersebut membahas hal-hal sebagai berikut; Peralihan kekuasaan di Suriah harus dilakukan secara damai, dan kehati-hatian harus diberikan untuk menjaga kohesi lembaga-lembaga negara guna memfasilitasi proses politik. Negara-negara yang berkepentingan harus memastikan bahwa Suriah tidak menjadi surga bagi ekstremis dan teroris setelah Bashar al-Assad. Menjamin kesopanan negara di Suriah, dan menciptakan kondisi untuk kembalinya pengungsi Suriah di Turki, Lebanon, Yordania dan Irak secara bertahap ke negara mereka seiring dengan pemulihan keamanan.

Informasi ini juga menyampaikan bahwa Rusia dan Iran dengan problematikanya, baik secara finansial dan militer tak mampu lagi menopang rezim Assad. Iran belum kembali ke keadaan semula di wilayah tersebut sejak pembunuhan komandan Pasukan Quds di Garda Revolusi, Jenderal Qassem Soleimani, begitu pun di Irak, dan perang Israel baru-baru ini terhadap “Hizbullah” di Lebanon, yang menyebabkan kerusakan pada wilayah tersebut.

Berita Lainnya:
Doktrin Trump Mengganti Rezim Tanpa Invasi dari Venezuela ke Iran

Selain itu, Iran, secara ekonomi menderita akibat krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya, tidak dapat mengimpor pesawat tempur dan senjata yang perjalanannya dari Irak dan Lebanon ke Suriah tidak lagi diizinkan oleh Israel dan Amerika Serikat seperti sebelumnya.

Adapun Rusia, sudah jelas bahwa mereka lebih memilih untuk fokus pada front mereka dengan Ukraina dan menginginkan penyelesaian yang mengakhiri kebuntuan yang telah mereka alami selama lebih dari dua tahun. Hal ini terjadi setelah Presiden terpilih Donald Trump mengambil alih kekuasaan di Amerika Serikat.

image_print
1 2 3 4
Logo
Suara Netizen
Memuat konten netizen...
ADVERTISMENT
Update Terbaru
ADVERTISMENT
Orinews Logo
Update Terbaru
Memuat Artikel...
MEMUAT BERITA...

Reaksi

Berita Lainnya