Lanjutnya menjelaskan, bahwa kabinet tidak peka itu. Dia menilai kabinet tiba-tiba jadi bego, karena tidak mampu lagi untuk merampok APBN yang diefisiensikan oleh presiden.
“Pragmatisme itu juga ada di kita itu, dan dalam kondisi itu, datang SBY (Susilo Bambang Yudhoyono).”
SBY, kata dia, mungkin punya semacam kemampuan fortune teller membaca keadaan.
“Mungkin SBY di awal dia tidak ucapkan bahwa kita krisis regional, itu artinya krisis yang memungkinkan sebut aja pemerintahan Indonesia itu kolaps. Tambah keadaan peran tarif sekali.”
“SBY mengucapkan itu, sekarang ucapan SBY itu seolah-olah mendapat legitimasi baru karena krisis, Krisi politik Indonesia, krisis Asia pada akhirnya,” ucap Rocky Gerung.
Kemudian, kata dia, disebut dengan matahari kembar.
“Kalau dalam ilmu fisika, memang ada matahari kembar. Saya belajar pertama di Fakultas Teknik. Tapi masalahnya, twins suns itu, dua matahari itu. Disebut dua matahari, kalau size dan jumlah lumennya itu berbeda,” ujar Rocky Gerung.
“Ukuran matahari itu harus berbeda dengan kembarannya tuh. Ukurannya sama tetapi jumlah lumennya, jumlah cahaya berbeda. oke kembar,” sambung Rocky.
Namun bila itu sama-sama, kata Rocky Gerung, misalnya besar volumenya 3.000 meter kubik, dan lumennya misalnya sama-sama, masih tetap dianggap satu.
“Sekarang kita lihat, size antara Presiden Prabowo dan Jokowi, mungkin sama, lumennya berbeda. Jumlah cahayanya berbeda, atau lumennya sama, size-nya berbeda. Apalagi, kalau size atau lumennya itu atau kekuatannya cahanya berbeda, brightnessnya berbeda, itu intinya.”
“Tetapi, dengan intuisi aja orang tahu memang ada dua matahari kembar dalam keadaan ini,” lanjut Rocky Gerung.
Dia juga mengatakan tidak ada persoalan soal matahari kembar. Akan tetapi, kata Rocky, orang pertanyakan kualitas dari mataharinya.
“Bagaiamana? kalau kualitas yang sana itu justru mendegradasi matahri. Kan, kalau jumlah cahaya di sini 15, di situ 15, jumnlahnya jadi 30. Tetapi kalau di sini 15, dan di situ 10, rata-ratanya jadi 15 tambah 25, jadi 12,5. Jadi makin redup justru Indonesia,” ucapnya.
Sebab, kata dia, matahari kembar yang satu lumennya kecil. Hal ini lantaran karena kata dia, yang satu diterbitkan dari tidar dan yang satu lagi diterbitkan dari gorong-gorong.
“Ada matahari terbit dari gorong-gorong, dan ingin bercahaya terus. Justru dia memperburuk jumlah cahaya politik, julmah cahaya demokrasi, jumlah cahaya nilai, itu dasarnya di situ,” kata Rocky Gerung.
“Sehingga orang panik, ini purnawirawan loh, dia justru berpikir ke depan dan itu dasarnya,” sambungnya.
































































































