SETELAH “sukses” dengan program pemagangan nasional di tahun 2025, di tahun 2026 ini, pemerintah berencana melanjutkan kembali. Kuota yang disiapkan minimal 100 ribu peserta. Rencana itu disampaikan oleh Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya bersama Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli usai meninjau pelaksanaan program pemagangan di Paragon Corp, Jakarta, Selasa, 27 Januari 2026.
Program pemagangan nasional, menurut Teddy, memberi manfaat bagi peserta, mulai dari pengalaman hingga keterampilan kerja sebagai bekal setelah lulus kuliah. Program ini dirancang untuk menekan angka pengangguran sekaligus memperkuat keterkaitan kompetensi lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan industri. Yassierli pun yakin bahwa program pemagangan menjadi instrumen penting dalam menyiapkan tenaga kerja yang kompeten dan berdaya saing untuk jangka panjang.
Program Pemagangan Masa Depan Masih Buram
Berbekal antusias peserta bukan berarti baik, tapi akibat tingginya angka pengangguran di Indonesia yang memaksa mereka menerima dan mencari pekerjaan meksi magang hanya untuk 6 bulan dan tak jarang tidak sesuai dengan bidang keilmuannya.
Dari sisi perusahaan, jika bersedia berkontribusi, bebannya hanya mendaftarkan perusahaannya di Wajib Lapor Ketenagakerjaan Perusahaan (WLKP) pada akun SIAPkerja Kemnaker. Selanjutnya, uang saku dan jaminan kesehatan ditanggung pemerintah. Sebagaimana yang disampaikan Menaker Yassierli bahwa perusahaan yang menyediakan lowongan bagi Program Magang Nasional merasa terbantu karena uang saku anak-anak magang difasilitasi negara.
Sedangkan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani memandang positif program ini, sebagai upaya untuk menjembatani lulusan baru dengan kebutuhan nyata di dunia kerja. Efek jangka pendeknya, uang saku dan aktivitas magang juga bisa menambah daya beli peserta dan mendukung perekonomian.
Bagaimana dari sisi pekerja dan efektifkah untuk mengurangi angka pengangguran? Pengamat ketenagakerjaan dari Universitas Gadja Mada (UGM) Tadjudin Nur Effendi mengatakan saat penyaluran para peserta semestinya sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Hal itu penting agar setelah magang, para peserta memiliki spesifikasi kemampuan yang aplikatif di dunia kerja (bbc.com,15-10-2025).
Program magang ini, menurut Tadjudin tidak menjamin para peserta akan mendapatkan pekerjaan sehingga berpengaruh kecil pada pengurangan jumlah pengangguran di kalangan sarjana. Berikutnya, anggaran yang dikeluarkan negara cukup besar namun tidak ada kepastian kerja, sebab pengangguran di usia produktif di negeri ini sangatlah banyak, sementara kesempatan kerjanya tak imbang.
































































































Paling Banyak Dipilih
Viral Lagu “Tak Diberi Tulang…
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Inilah 5 Produk Jam Tangan…
Apa benar, yang nomor 4 itu adalah produk ROLEX...???
Berusia Setengah Abad sejak 6/8/1973…
Berikut untuk mengingatkan kita kembali tentang Sejarah: "Kita bukan pembuat…
Pembiayaan Digantung Tak Ada Kabar…
Kriet mate bank Aceh nyan menyoe meurusan ngen ureng Aceh.…
Ada Dua Nama Calon Direktur…
Siapapun nanti dirut yg terpilih, saya siap membantu bas menggarap…
Active Threads
Nabi Isa 'alaihissalam, yang disebut sama org kafir sebagai Yesus…
Keren Bank Aceh Syariah. Dari waktu ke waktu penuh inovasi.…
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Hana jelas, Leh kiban di meubut di kelola,Meu peu cap…
Paling Dikomentari
Beredar Narasi di Tentara AS,…
Bank Aceh Siapkan Reward Khusus…
Kanda Bahlil Girang Disanjung dengan…
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Komentator Paling Aktif
Komentar Paling Aktif
Indonesia, khususnya Aceh, perintah Allah dan Rasulullah itu, level urgensi…
😥 Inna lillahi wa Inna ilahi raaji'un
😂 Mana pernah ngaku penjahat.
😂 Mereka orang-orang penyembah berhala yang terlalu delusional…
Iran is the best 👌 Amerika Serikat dan Teroris…
Berita Terpopuler