NASIONAL
NASIONAL

Tradisi Jual Beli Istri di Eropa, Budaya Rakyat Abad ke-17 sampai ke-20

0leh::Buni Yani

   

BANGSA-bangsa Asia, Afrika, dan Amerika Latin tidak perlu berkecil hati mengenai perkembangan peradaban mereka. Karena memang bangsa-bangsa di dunia pernah mengalami masa-masa ketika penghormatan terhadap manusia masih rendah, sementara pemahaman terhadap kesehatan serta kebersihan pun hampir tidak ada.

Kini, mari kita menelisik sejarah perkembangan hak asasi manusia serta usaha emansipasi wanita yang selalu dinisbatkan kepada benua Eropa dan Amerika. Bila kita mau memperhatikan secara seksama bagaimana hak asasi manusia dan emansipasi wanita berkembang di Barat, maka kita akan menemukan ternyata kedua hal ini belum lama dimulai.

Kali ini kita akan mempelajari secara sekilas bagaimana tradisi jual beli istri di Eropa yang berkembang di kalangan masyarakat bawah merupakan fakta sejarah yang tidak akan pernah bisa dihapus sampai kapan pun. Catatan yang menurut semangat zaman kita sekarang ini dianggap sebagai simbol keterbelakangan dan ketidakberadaban.

Berita Lainnya:
Terungkap Harta Kekayaan Ketua PN Depok I Wayan Eka Mariarta, Totalnya

Dalam sejarah Eropa, menjual istri yang merupakan tradisi rakyat Inggris, berfungsi sebagai alternatif kelas bawah dalam bercerai. Meski tidak pernah diakui secara hukum, praktik ini diterima secara luas oleh masyarakat dari akhir abad ke-17 hingga awal abad ke-20 sebagai cara untuk mengakhiri pernikahan yang tidak bahagia.

Hingga pertengahan abad ke-19, perceraian sah di Inggris harus mematuhi peraturan yang biayanya sangat mahal bagi kelas pekerja. Penjualan istri berfungsi sebagai pernyataan perpisahan kepada khalayak ramai. Suami akan menuntun istrinya ke pasar dengan tali atau kekang (halter). Sang istri akan dilelang kepada penawar tertinggi, yang acap kali sudah diatur siapa pemenangnya.

Meskipun tampak merendahkan, sejarawan mencatat bahwa praktik ini dilakukan atas dasar suka sama suka. Para istri setuju untuk dijual guna melarikan diri dari pernikahan yang penuh kekerasan atau buntu. Dalam beberapa kasus, pihak perempuan menyediakan uang untuk pembelian mereka.

Berita Lainnya:
Siaga Serangan AS, Iran Gelar Latihan Perang di Selat Hormuz

Harga jual berkisar dari beberapa shilling hingga segelas bir, atau bahkan sekadar ditukar dengan hewan seperti keledai. Harga tersebut bersifat simbolis saja, bukan nilai komersial yang sebenarnya.

Penjualan istri di Eropa, khususnya di Inggris, mencapai puncaknya antara tahun 1750 sampai 1850. Meskipun tampak tak beradab, praktik ini berfungsi sebagai perceraian bagi mereka yang tidak mampu membayar biaya prosedur hukum yang sangat mahal. 

Adat ini mengandalkan pengakuan publik agar dianggap mengikat. Dengan menjual istri di pasar atau kedai minum, sang suami memberi tanda kepada masyarakat bahwa ia melepaskan semua tanggung jawab hukum dan finansial atas istrinya.

image_print
1 2 3 4 5
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Reaksi

Berita Lainnya