UPDATE

OPINI
OPINI

Tradisi Jual Beli Istri di Eropa, Budaya Rakyat Abad ke-17 sampai ke-20

Salah satu temuan Thompson yang paling penting adalah bahwa dalam sebagian besar kasus yang ia teliti (lebih dari 200 kasus antara 1780-1880), sang istri setuju atau bahkan menginginkan penjualan tersebut. Ia mencatat bahwa istri memiliki hak veto jika ia tidak menyukai pembelinya.

Ia memasukkan praktik ini ke dalam konsep moral economy, di mana masyarakat kelas bawah menciptakan aturan mereka sendiri yang bertentangan dengan hukum formal negara tetapi dianggap adil oleh masyarakat.

Penjualan tersebut secara simbolis mengalihkan tanggung jawab finansial dan hukum suami atas istrinya kepada pembeli baru, yang seringkali adalah kekasih sang istri yang sudah diatur sebelumnya.

Thompson menentang pendapat para penulis kelas menengah abad ke-19 yang menggambarkan penjualan istri sebagai bukti kebiadaban kelas pekerja. Ia berpendapat bahwa praktik ini menunjukkan adanya keteraturan sosial di luar hukum negara.

Bagi komunitas plebeian, pasar umum adalah “pengadilan” mereka. Dengan membawa masalah domestik ke pasar, mereka memberikan legitimasi sosial pada perceraian.

Thompson menjelaskan bahwa jika penjualan dianggap tidak adil atau kasar, komunitas melakukan “rough music” (musik kasar). Warga akan berkumpul di depan rumah sang suami, memukul panci dan wajan, serta meneriakkan ejekan untuk mempermalukannya karena memperlakukan istrinya dengan buruk. Ini adalah bentuk kontrol sosial komunitas untuk memastikan ritual dilakukan dengan benar dan adil.

Penjualan istri di Eropa berakar pada hukum yang menetapkan bahwa perempuan merupakan hak milik suami.

Di Jerman, hukum memandang istri sebagai hak milik yang dapat diperjualbelikan. Suami dapat secara sah menjual istri mereka sebagai upaya terakhir untuk membayar utang atau sebagai hukuman atas perzinaan. Pedesaan Prancis barat memiliki catatan penjualan istri yang tersebar, bahkan ketika pengamat Prancis pada masa itu sering mengkritik orang Inggris yang “biadab” karena praktik yang sama.

Di Inggris, penjualan istri didasarkan pada prinsip Coverture yang menetapkan bahwa wanita yang sudah menikah tidak memiliki hak atas dirinya. Seorang suami secara hukum bertanggung jawab atas utang istrinya. Menjualnya merupakan upaya untuk secara publik memindahkan tanggung jawab keuangan kepada pembeli baru.

Banyak hakim di pedesaan tidak bisa berbuat apa-apa. Meskipun secara teknis penjualan istri merupakan pelanggaran hukum, mereka jarang menuntut pelaku karena khawatir akan memicu kerusuhan massa yang mendukung tradisi tersebut. Dalam beberapa catatan, polisi bahkan membantu mengamankan lokasi pasar agar ritual berjalan lancar.

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2 3 4 5

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.