Istri dituntun dengan tali atau sabuk yang biasanya digunakan untuk ternak yang diikatkan di leher, pinggang, atau lengan. Ini bukan untuk pengendalian fisik, melainkan persyaratan simbolis dari ritual tersebut. Yang terpenting, sang istri harus memberikan persetujuan atas penjualan tersebut. Jika ia tidak menyukai penawar, ia bisa, menurut tradisi rakyat, menolak transaksi yang terjadi.
Sering digambarkan, suami asli, sang istri, dan pembeli baru berbagi segelas bir untuk merayakan berhasilnya penjualan segera setelah transaksi selesai. Selain dengan uang, istri terkadang ditukar dengan barang-barang aneh yang mencerminkan rendahnya penilaian suami atau sifat simbolis dari perpisahan tersebut.
Pada tahun 1829, seorang pria di Bristol menukar istrinya dengan seekor keledai. Dalam kasus lain, seorang istri ditukar dengan umbi-umbian. Penjualan istri di Carlisle menghasilkan uang sebesar 1 poundsterling dan seekor anjing Newfoundland.
Selama berabad-abad hakim dan penegak hukum lainnya menutup mata atau bahkan mendorong praktik ini dilakukan. Karena ini merupakan langkah penghematan biaya untuk mencegah istri dan anak yang ditelantarkan menjadi beban finansial bagi paroki lokal.
Novel tahun 1886 berjudul The Mayor of Casterbridge karya Thomas Hardy merupakan catatan fiksi paling terkenal mengenai praktik ini.
Cerita dibuka dengan Michael Henchard, seorang buruh miskin, yang menjual istrinya, Susan, dan bayi perempuannya kepada seorang pelaut seharga lima guinea saat sedang mabuk di sebuah pekan raya desa. Meskipun kritikus meragukan peristiwa tersebut benar-benar terjadi, Hardy mendasarkan ceritanya pada berita surat kabar.
Hardy menggunakan penjualan tersebut untuk menggambarkan lemahnya posisi perempuan secara hukum di bawah sistem Coverture. Menariknya, Susan yang dalam novel bertindak sebagai protagonis, dan digambarkan memiliki sedikit kendali atas dirinya, menyetujui penjualan dirinya agar bisa melarikan diri dari suaminya.
Dalam bukunya berjudul Customs in Common (1991), sejarawan EP Thompson memberikan analisis mendalam mengenai penjualan istri sebagai bagian dari “budaya plebeian” atau budaya rakyat kelas bawah di Inggris.
Thompson berpendapat bahwa penjualan istri bukanlah tindakan perdagangan manusia yang brutal, melainkan bentuk perceraian tidak resmi yang sangat teratur bagi masyarakat miskin yang tidak mampu membayar biaya perceraian yang sangat mahal.
Thompson menekankan bahwa agar penjualan dianggap sah di mata komunitas, ritual tertentu harus dipenuhi, terutama penggunaan tali kekang (halter) dan dilakukan di tempat umum (seperti pasar atau kedai) dengan saksi yang banyak.


















































































































Komentar Terbaru