NASIONAL
NASIONAL

Tradisi Jual Beli Istri di Eropa, Budaya Rakyat Abad ke-17 sampai ke-20

Thompson dan sejarawan lainnya mencatat beberapa kasus yang menunjukkan betapa normalnya praktik ini di masa lalu. 

Di Carlisle, Joseph Thompson menjual istrinya setelah tiga tahun menikah. Ia menaruh halter di leher istrinya dan memujinya di depan kerumunan pasar betapa baiknya dia di rumah, namun ia menyatakan mereka tidak cocok. Ia menjualnya seharga 20 shilling dan seekor anjing Newfoundland. Menariknya, pembeli tersebut adalah kekasih sang istri, dan ketiganya dilaporkan pergi minum bir bersama setelah transaksi.

EP Thompson menyoroti bahwa bagi keluarga miskin, istri adalah unit ekonomi yang vital. Jika seorang istri pergi begitu saja, suami lama tetap bertanggung jawab atas utangnya di bawah hukum Coverture. Dengan melakukan penjualan, suami lama memberikan pemberitahuan secara terbuka bahwa ia tidak lagi bertanggung jawab atas tagihan kepada istrinya. Ini adalah bentuk perlindungan bagi pria kelas pekerja saat itu.

Berita Lainnya:
Isu MSCI Hantam IHSG, Pengamat: Jangan Serigala Berbulu Domba, Lah!

Thompson mencatat bahwa tradisi ini menghilang bukan hanya karena adanya hukum baru, tetapi karena perubahan sensibilitas publik. Meningkatnya literasi dan pengaruh nilai-nilai kelas menengah membuat ritual pasar ini tampak memalukan bagi generasi kelas pekerja yang lebih baru. Munculnya surat kabar lokal yang sering melaporkan kejadian ini dengan nada mencemooh membuat pelaku penjualan menjadi target ejekan masyarakat.

Di akhir abad ke-19, ketika kelas menengah mulai mendominasi opini publik, penjualan istri beralih dari ritual serius menjadi bahan olok-olok di jalanan dan pertunjukan teater. Ini memaksa kelas pekerja meninggalkan tradisi ini karena rasa malu sosial (social shame), jauh sebelum hukum benar-benar bisa menghentikannya.

Meskipun kasus terakhir terjadi pada tahun 1913 di Leeds, praktik ini mulai memudar secara drastis sejak akhir 1800-an karena beberapa faktor utama. Pertama, pengesahan Matrimonial Causes Act 1857 memindahkan yurisdiksi perceraian dari pengadilan gereja ke pengadilan sipil. Meskipun masih mahal, ini adalah langkah pertama yang membuat perceraian legal menjadi mungkin bagi kelas menengah ke bawah.

Berita Lainnya:
Donald Trump ke Iran: Waktu Hampir Habis, Segera Buat Kesepakatan Nuklir, atau Serangan Militer Lebih Besar

Kedua, Married Women’s Property Act 1882 mengubah semua hal. Wanita mulai diakui sebagai individu hukum yang bisa memiliki properti sendiri. Hal ini menghilangkan doktrin Coverture yang selama ini menjadi landasan logika menjual istri sebagai properti.

Ketiga, karena meluasnya edukasi masyarakat. Seiring meluasnya pendidikan, kelas pekerja mulai memandang ritual pasar sebagai sesuatu yang memalukan dan ketinggalan zaman. Tekanan sosial dari tetangga dan surat kabar lokal jauh lebih efektif menghentikan praktik ini daripada ancaman penjara.

image_print
1 2 3 4 5
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Reaksi

Berita Lainnya