0leh: Rosadi Jamani
KITA update perang Iran vs Israel-AS, 3 Maret 2026. Apa saja yang terjadi? Iran masih perkasa. Belum ada tanda-tanda takluk. Begitu juga Israel-AS, tak mau dipencundangi Persia.
Iran masih berdiri dengan dada dibusungkan, kumis imajiner bergetar diterpa badai sanksi. Israel-AS juga ogah kelihatan kalah. Dua kubu sama-sama pasang muka “kami baik-baik saja”, padahal denyut nadi geopolitik sudah seperti drummer metal kerasukan.
Adegan pembuka, Selat Hormuz. Arteri emas minyak dunia yang biasanya sibuk seperti Pasar Flamboyan jelang Lebaran, tiba-tiba dikunci IRGC seperti bos mafia menyegel gudang.
Ebrahim Jabari teriak lantang, “Tutup total!” Lebih dari 150 tanker super raksasa berjejer di luar, AIS dimatikan, seperti paus-paus raksasa antre masuk surga tapi gerbangnya digembok.
Pro-Barat bilang “efektif tertutup meski secara hukum masih perairan internasional.” Pro-Iran jawab, “Balasan sah. Tak setetes pun minyak keluar sebelum agresor kapok.”
Harga Brent melonjak seperti roket Elon Musk kehilangan rem. Prediksi BBM di Indonesia bisa naik sampai 50 persen. Kita semua mendadak merasa kaya karena angka nol di struk SPBU bertambah… lalu sadar dompet kosong. Epik? Tidak. Ini Mad Max versi nyata.
Cut ke Dubai. Kota yang biasanya jadi altar selfie influencer dengan latar Burj Khalifa, mendadak berubah jadi panggung ledakan.
Ratusan drone Iran datang seperti kawanan lebah tersinggung. Burj Al Arab tertutup asap, Fairmont The Palm terbakar hebat, serpihan rudal jatuh di sekitar Dubai International Airport, dan Jebel Ali Port berasap seperti adegan akhir film kiamat.
UAE klaim 186 rudal balistik dan 812 drone dihancurkan. Angka yang kalau dibacakan terasa seperti skor pertandingan PlayStation.
Tetap saja, 3 orang tewas, 58 sampai 68 luka. Langit jadi pesta kembang api versi horor.
Sheikh tampil di mal dengan wajah tenang, “under control.” Sementara expat panik, turis ribuan terdampar, pasar saham tutup, reputasi “safe haven pajak nol” retak seperti layar ponsel jatuh.
Belum selesai. Penerbangan ambruk total. Emirates suspend semua penerbangan reguler sampai besok malam.
Etihad hanya izinkan repatriasi super terbatas. Qatar Airways full stop karena airspace ditutup.
Lebih dari 12.300 penerbangan batal di tujuh bandara Teluk sejak 28 Februari. Satu juta lebih manusia terdampar, makan mi instan di hotel bintang lima sambil berburu WiFi gratis.
EASA teriak “high risk total.” Departemen Luar Negeri AS bilang “Depart Now dari 14 negara.” Masalahnya, mau depart pakai apa? Karpet terbang Aladin?































































































