Banyak pejabat telah memperingatkan bahwa konsekuensi perang sulit diprediksi, tetapi peringatan itu tenggelam oleh fantasi Trump tentang “kemenangan cepat dan pasti”.
Dewan Keamanan Nasional, yang perannya terpinggirkan karena perampingan, berarti suara-suara profesional dan hati-hati disingkirkan, digantikan oleh keyakinan buta yang hanya ingin menyenangkan presiden.
Sekutu AS di Timur Tengah berulang kali memperingatkan konsekuensi bencana dari konfrontasi dengan Iran, namun peringatan itu tidak diindahkan.
Kini, ketika api perang menyambar mereka, “rasa aman” yang pernah dibanggakan negara-negara ini hancur, dan kepercayaan mereka pada janji perlindungan Amerika ikut lenyap bersama asap tebal yang mengepul di Teluk Persia.
Kini, Amerika sendiri telah terperosok jauh ke dalam lumpur.
Pemerintahan Trump yang memaksa sekutu untuk mengoordinasikan pelepasan cadangan minyak strategis untuk “menyelamatkan situasi darurat” justru membuktikan ketidakmampuannya sendiri mengendalikan api yang dinyalakannya.
Perang Trump melawan Iran adalah sebuah kegagalan yang ditempa oleh arogansi strategis, kegagalan intelijen, kenakalan dalam pengambilan keputusan, dan kesombongan terhadap sekutu.
Ini bukanlah rencana yang “sedikit meleset”, melainkan bencana yang sarat cacat fundamental, mulai dari konsepsi hingga pelaksanaan.
Bukan hanya gagal “Membuat Amerika Hebat Kembali”, tetapi malah menciptakan kekacauan yang lebih besar di Timur Tengah, merusak keamanan energi global, melemahkan sistem aliansi Amerika, dan pada akhirnya menempatkan Amerika sendiri dalam posisi yang lebih berbahaya dan tidak pasti.
Ini adalah taruhan yang gagal, dan Amerika, sekutunya, bahkan seluruh dunia, terpaksa membayar mahal untuk taruhan ini.
Amerika kini seharusnya paham, di papan catur politik internasional, arogansi dan kebodohan adalah musuh yang jauh lebih berbahaya daripada musuh eksternal mana pun.































































































