BANDA ACEH – Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengumumkan bahwa Iran telah memberikan izin bagi kapal-kapal Malaysia untuk melintasi Selat Hormuz. Pengumuman ini disampaikan Anwar pada Kamis (26 Maret 2026) setelah ia melakukan pembicaraan dengan pemimpin Iran, Mesir, Turki, dan beberapa negara kawasan lainnya.Dalam pidato yang disiarkan televisi, Anwar Ibrahim menyampaikan terima kasih kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian atas izin tersebut. “Kapal-kapal Malaysia sekarang diizinkan untuk melewati Selat Hormuz,” ujarnya, seperti dikutip Reuters dan berbagai media Indonesia.
Langkah ini terjadi di tengah pembatasan ketat yang diterapkan Iran terhadap lalu lintas kapal di Selat Hormuz menyusul eskalasi konflik dengan Amerika Serikat dan Israel sejak akhir Februari 2026. Iran menyatakan Selat Hormuz tetap terbuka bagi kapal “non-musuh” atau negara sahabat, asalkan tidak mendukung agresi terhadap Teheran dan berkoordinasi dengan otoritas Iran, termasuk Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). Beberapa negara yang telah mendapatkan izin serupa antara lain China, India, Pakistan, Irak, dan kini Malaysia.
Kondisi di Indonesia
Sementara itu, hingga saat ini belum ada pengumuman resmi bahwa kapal-kapal Indonesia mendapatkan izin serupa. Dua kapal tanker milik Pertamina International Shipping (PIS), yaitu Pertamina Pride dan Gamsunoro, dilaporkan masih tertahan di kawasan Teluk Persia dan belum bisa melintasi Selat Hormuz.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) terus melakukan pendekatan diplomatik intensif dengan otoritas Iran. Juru Bicara Kemlu RI Yvonne Mewengkang menyatakan bahwa KBRI Teheran aktif berkomunikasi untuk memastikan keamanan pelayaran kapal-kapal Indonesia yang membawa pasokan energi. “Kita akan terus mendorong pendekatan diplomatik yang intensif terkait isu ini,” kata Yvonne.
Belum ada konfirmasi resmi dari pihak Iran maupun Pertamina mengenai kemajuan izin bagi kapal-kapal Indonesia. Sejumlah laporan sebelumnya menyebut adanya upaya diplomasi, termasuk saran dari tokoh seperti Jusuf Kalla, namun situasi masih belum kondusif sepenuhnya.
Latar Belakang Selat Hormuz
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilewati sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Sejak konflik memanas, Iran memberlakukan pembatasan ketat, menyebabkan ribuan kapal terjebak dan harga energi global melonjak. Iran membuka “koridor aman” terbatas melalui perairan teritorialnya dengan syarat koordinasi dan, dalam beberapa kasus, pembayaran biaya tol bagi kapal tanker bernilai tinggi.































































































