IndonesianArabicEnglishRussianGermanChinese (Simplified)JapaneseTurkish

Kementan Dorong Pelatihan Barista, Jadi Stimulus Munculnya 'Baristan'

Aksi seorang baristan dalam menyiapkan kopi.
Bagikan

Bagikan Artikel Ini

atau salin tautannya

Kopi Indonesia selama ini cukup dikenal di seluruh dunia karena memiliki ciri khas.

 JAKARTA — Tak ada yang membantah bahwa kopi Indonesia kini dikenal mendunia. Dilansir dari Antara, Rabu (23/3/2022), Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo, dalam taklimat media (pertanian.go.id) di Jakarta, pada Kamis (27/1/2022) dalam sebuah kegiatan Gerakan Tanam Kopi Indonesia (Gertak) mendorong petani kopi Indonesia untuk meningkatkan produksi dan menjaga kualitas tanamnya agar terus menjadi kopi terbaik di dunia.


“Jadi sesuai arahan Bapak Presiden, tidak ada warung kopi di dunia tanpa kopi Indonesia. Karena itu Gerakan Tanam Kopi ini tidak boleh gagal, tiga bulan pertama kita tanam, bulan kedua kita lihat hasil dan bulan ketiga kita panen,” kata Mentan, yang karib disapa SYL itu.


Kopi Indonesia selama ini cukup dikenal di seluruh dunia karena memiliki ciri khas. Kualitas rasa dan aroma kopi Indonesia sangat berbeda dengan kopi-kopi lain di berbagai benua.


Terlebih, Indonesia adalah negara subur yang memiliki dukungan matahari dan air yang melimpah.


“Mau di dataran tinggi kita ada kopi Arabica dan kalau mau yang di dataran rendah kita ada Robusta dan tahun ini saya targetkan 10 juta pohon. Kenapa? Karena seluruh dunia lagi tren minum kopi. Semua sudut ada tempat kopi,” katanya.


Dalam dunia kopi, bak keping mata uang, maka satu hal yang tidak dipisahkan adalah peramu atau peracik yang menghidangkan kopi, sehingga membuat enak untuk dinikmati, yang dikenal dengan “barista”.


Di banyak kamus bahasa, pengertian barista adalah seseorang yang menyiapkan dan menyajikan kopi-kopi berbasis espresso.


Meskipun istilah barista digunakan untuk menyebut orang yang menyiapkan kopi, namun secara teknis barista adalah seseorang yang sudah terlatih secara profesional untuk membuat espresso, plus memiliki keahlian tingkat tinggi untuk meracik kopi-kopi yang melibatkan berbagai campuran dan rasio, semacam latte atau cappuccino.

BACA JUGA:
Komut Bank Aceh, Taqwallah: UMKM Pilar Penting Akselerator Perekonomian


Secara etimologi, kata barista berasal dari Bahasa Italia yang berarti bartender, yaitu mereka yang menyajikan segala macam minuman, bukan hanya kopi.


Namun seiring perkembangan zaman dan masuknya tren kopi ke Amerika dan Eropa, kata ini kemudian diadopsi menjadi yang sekarang kita kenal.


Sementara di Italia sendiri, barista sering disebut dengan baristi (untuk laki-laki) atau bariste (untuk perempuan).


 


Sekolah barista


Mengingat tidak bisa dipisahkannya kopi dan barista, maka Kementan melalui sekolah menengah kejuruan pertanian pembangunan pertanian (SMK-PP) negeri di beberapa daerah mengadakan pendidikan dan pelatihan atau sekolah bagi barista ini.


Salah satunya di SMK-PP Negeri Banjarbaru, Kalimantan Selatan, sebagai institusi pendidikan vokasi di bawah naungan Kementan, yang terus berupaya meningkatkan dan mengembangkan kualitas lulusannya.


Salah satu upayanya adalah meningkatkan kualitas teaching factory (TEFA) karena melalui TEFA, peserta didik akan dapat meningkatkan kompetensinya sebagai wirausaha dan memiliki kesiapan untuk terjun di dunia industri yang sebenarnya.


Guna mendukung Tefa di SMK-PP Negeri Banjarbaru, manajemen sekolah kembali menggelar pelatihan peningkatan kapasitas.


Pelatihan kali ini tentang barista selama lima hari, terhitung sejak Senin (14/3/2022), bertempat di Kampus dan Laboratorium PHP SMK-PP Negeri Banjarbaru.


Peserta mendapatkan pembelajaran dari instruktur Coffee and Cocoa Training Center dari Surakarta, Jawa Tengah.


Peserta diberi materi tentang panen dan pascapanen kopi, pengupasan buah kopi dan pencucian, pengupasan kulit kering dan sortasi, peringkat mutu biji kopi dan peringkat mutu biji kopi.


Kemudian penyangraian biji kopi, pengemasan dan penyimpanan kopi bubuk, teknik penyeduhan, kewirausahaan kopi dan terakhir manajemen produksi kopi.


Sementara itu, Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Kementan Pak Datuak turut berperan aktif dalam meningkatkan kompetensi


SDM pertanian, khususnya kaum milenial di Kabupaten Solok Selatan, Sumbar.


Sebanyak 30 orang peserta berusia 18-25 tahun mengikuti pelatihan kompetensi barista. Bertujuan untuk memperluas kesempatan kerja di bagian hilirisasi kopi serta meningkatkan pengetahuan bagi generasi muda tentang industri kopi bagi kaum milenial.

BACA JUGA:
Presiden Jokowi Serahkan DIPA 2023 ke Mentan SYL


Sementara melalui Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Medan, Kementan juga menyelenggarakan Pelatihan Barista dan Sertifikasi Komptensi Barista.


Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan Dedi Nursyamsi menyatakan, semua pihak terkait, mulai dari


petani harus mengetahui proses pertanian dari hulu sampai ke hilir, yakni dari mengolah lahan sampai packaging produk, bahkan penjualan. “Hal ini akan menjadi nilai lebih buat petani,” katanya.


Kondisi itu yang mendasari Polbangtan Medan menyelenggarakan Pelatihan Barista dan Sertifikasi Komptensi Barista.


Bersinergi dengan PT Masyarakat Kopi Indonesia (PT MKI), Polbangtan Medan menyediakan tim fasilitator dan asesor pada kegiatan pelatihan dan sertifikasi kompetensi barista.


 


Kemunculan “baristan”


Kalangan pecinta kopi di media sosial beberapa waktu lalu dihebohkan perdebatan menanggapi munculnya istilah “baristan”.


Sekilas mirip dengan kata “barista” yang merupakan profesi ahli meracik minuman kopi. Belakangan diketahui bahwa baristan merupakan akronim dari “Barista Kopi Instan”.


Untuk membahas kemunculan baristan itu, maka pada Selasa (22/3/2022) di Jakarta diselenggarakan diskusi virtual bertema “Baristan: Solusi Ngopi Berkualitas di Rumah”.


Konsep dan istilah “baristan” diperkenalkan oleh produk kopi instan kemasan dari PT Sumber Kopi Prima atau yang lebih dikenal sebagai Caffino, untuk para penikmat kopi di Indonesia.


Menurut CEO PT Sumber Kopi Prima, Ihsan Mulia Putri, minum kopi sudah jadi budaya orang Indonesia. Mayoritas, pagi-pagi sudah minum kopi dan


kopi itu menjadi penambah semangat (fungsional). Pecinta kopi yang suka eksperimen juga menjadi suka ke kafe-kafe. Ada juga yang passionate ke kopi lalu terinspirasi jadi barista.


Dalam situasi masih pandemi Covid-19, pihaknya ingin menghadirkan solusi untuk minum kopi seenak ke kafe, sehingga tetap bisa beraktivitas dari rumah sambil menikmati. Ini juga menjadi inspirasi buat “ngopi” berkualitas di rumah.


“Oleh karena itu, kami mengenalkan konsep baristan, semua orang bisa bikin dan kreasi kopi sendiri di rumah dan yang pasti dijamin enak,” katanya.


 

sumber : Antara

0
senang
Senang
0
sedih
Sedih
0
marah
Marah
0
waduh
Waduh
0
sakit
Sakit
Kementan Dorong Pelatihan Barista, Jadi Stimulus Munculnya 'Baristan'
Masuk Login

Log in or create an account now to take advantage of its privileges, and it's completely free!