Sabtu, 27/04/2024 - 06:48 WIB
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi

TERBARU

LIFESTYLE

Orang Memutuskan Childfree, Psikolog: Yang Penting tak Memojokkan

ADVERTISEMENTS

Orang yang memutuskan childfree bisa saja mengubah keputusannya suatu hari.

ADVERTISEMENTS
Ucapan Selamat Memperingati Hari Kartini dari Bank Aceh Syariah
ADVETISEMENTS
Ucapan Belasungkawa Zakaria A Rahman dari Bank Aceh

JAKARTA — Childfree merupakan fenomena di mana seseorang atau pasangan suami istri memutuskan untuk tidak memiliki anak. Lantas apa kiranya yang mendorong seseorang atau pasangan tak ingin memiliki momongan?

ADVERTISEMENTS
Ucapan Selamat dan Sukses atas Pelantikan Reza Saputra sebagai Kepala BPKA

Psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjojo mengatakan, setiap pasangan yang memutuskan untuk childfree tentu memiliki alasan sendiri yang khas dilatarbelakangi pengalaman hidup mereka masing-masing. Bisa saja alasannya berkaitan dengan masalah kesehatan fisik, mental, atau hal lainnya. 

ADVERTISEMENTS
Manyambut Kemenangan Idul Fitri 1445 H dari Bank Aceh Syariah
Berita Lainnya:
Hujan Masih Sering Mengguyur, Jaga Ketahanan Tubuh dengan Terapkan Pola Makan Sehat

“Bisa juga dikaitkan dengan konsep kebahagiaan yang berbeda-beda bagi tiap orangnya. Ada yang bahagia dengan memiliki anak dan ada yang bahagia dengan tidak memiliki anak,” kata Vera saat dihubungi Republika.co.id, Rabu (8/2/2023).

ADVERTISEMENTS

Vera mengungkapkan, seseorang atau pasangan yang memutuskan untuk childfree juga bisa saja mengubah keputusannya pada kemudian hari. Dan itu, menurut Vera, adalah sesuatu yang wajar.

ADVERTISEMENTS
Mudahkan Hidup Anda!, Bayar PBB Kapan Saja, Di Mana Saja! - Aceh Singkil

“Setiap pasangan punya alasan yang berbeda dari lainnya. Ada yang memutuskan secara permanen atau temporer, yang mana dia bisa saja berubah pada kemudian hari,” kata Vera.

Berita Lainnya:
Guru Besar UGM Sebut Anemia Aplastik Akibat Obat Jarang Terjadi

Vera mengatakan, keputusan untuk memiliki momongan atau childfree kembali ke keadaan masing-masing pasangan. Namun bagaimanapun keputusannya, yang penting diterapkan adalah sikap saling menghargai dan tidak memojokkan satu sama lain.

“Hargai bahwa setiap pasangan atau keluarga memiliki keputusan yang berbeda. Tidak memojokkan satu sama lain, misal dengan mengatakan ‘repot kan kalau punya anak’. Karena itu tadi, konsep bahagia bisa berbeda-beda,” kata Vera.

 

 

Sumber: Republika

x
ADVERTISEMENTS

Reaksi & Komentar

Berita Lainnya

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ditemukan berita/artikel lainnya.
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi