Harian Aceh Indonesia menampilkan berbagai iklan online kepada para pengunjung. Mohon dukungannya untuk membiarkan situs kami ini tetap menayangkan iklan dan dijadikan whitelist di ad blocker browser anda.
Sabtu, 02/12/2023 - 15:59 WIB
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi

TERBARU

BISNISEKONOMI

Pengamat Ungkap Penyebab Masyarakat Masih Terjerat Pinjol hingga Bunuh Diri

 JAKARTA — Teror pinjaman online (pinjol) kembali memakan korban. Belum lama ini viral seorang nasabah platform peer to peer lending (p2p lending) AdaKami yang diduga bunuh diri setelah mendapatkan sejumlah ancaman dari pihak Desk Collection (DC).

Menanggapi kasus tersebut, Peneliti Center of Digital Economy and SMEs INDEF Nailul Huda melihat ada dua hal yang menyebabkan terjadinya kasus gagal bayar hingga merenggut korban jiwa. Pertama, menurut Huda, informasi mengenai pinjol masih belum simetris.

“Informasi yang berkembang saat ini asimetris, sebagai contoh mengenai bunga,” kata Huda kepada Kamis (21/9/2023). 

Berita Lainnya:
Menteri Bahlil Janji ke Wapres Penuhi Target Investasi Rp 1.400 T

Berdasarkan survei, Huda menjelaskan, faktor paling penting yang dipertimbangkan saat meminjam adalah suku bunga yang rendah. Namun, pinjol tidak memberikan informasi secara rinci besaran bunga yang harus dibayarkan.

“Iklan pinjol hanya menampilkan bunga mulai 0,1 persen hingga 0,4 persen tanpa menampilkan apakah itu harian, mingguan, atau bulanan. Jika harian sebesar 0,4 persen, maka satu bulan adalah 12 persen,” jelas Huda.  

Selain itu, kasus terakhir menyebutkan pembayarannya mencapai dua kali lipat dari utang pokok. Untuk itu, Huda meminta ada pihak yang harus bertanggung jawab terhadap informasi tersebut.

Berita Lainnya:
Harga Pertamax Turun Lagi! Ini Daftar Lengkap BBM yang Turun Harga

Kedua, Huda melihat, penilaian //credit scoring// pinjol yang menggunakan data alternatif masih perlu diperkuat. Menurut Huda, harus ada data pembanding atau penunjang seperti data historis perbankan. Data ini bisa digunakan untuk melihat kemampuan bayar calon peminjam. 

“Ini dapat dilihat sebenarnya dari tingkat gagal bayar yang semakin meningkat. Bahkan ada pinjol resmi yang tingkat bayarnya sampai 77 persen. Artinya, dari sistem assesmennya harus ada perbaikan,” kata Huda. 

Sumber: Republika

Reaksi & Komentar

Berita Lainnya

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ditemukan berita/artikel lainnya.
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi
Click to Hide Advanced Floating Content

Click to Hide Advanced Floating Content