Pada Agustus 2024, Momika didakwa telah melakukan ‘agitasi terhadap kelompok etnis’ sebanyak empat kali pada musim panas tahun 2023.
Pengadilan distrik Stockholm dijadwalkan akan menyampaikan putusannya dalam kasus tersebut pada Kamis, 30 Januari 2025, atau keesokan paginya setelah Momika dibunuh. Namun pada hari yang sama, jaksa penuntut membatalkan dakwaan tersebut.
Momika mengaku dia telah menerima banyak ancaman pembunuhan atas protesnya, yang disiarkan langsung di media sosialnya.
Sementara Momika mendapat perlindungan polisi selama protes dan saat menghadiri pengadilan, pengacaranya Anna Roth mengatakan kepada kantor berita TT bahwa sejauh pengetahuannya, Momika tidak dilindungi saat berada di rumah.
“Dia sangat menyadari bahwa ada ancaman besar terhadapnya. Ada harga yang harus dibayar untuk kepalanya,” kata Roth.
Pada Maret 2024, Momika sempat meninggalkan Swedia untuk mencari suaka di Norwegia, mengatakan bahwa kebebasan berekspresi dan perlindungan hak asasi manusia di Swedia adalah ‘kebohongan besar’.
Akan tetapi, pengajuan suaka itu ditolak mentah-mentah dan Norwegia mendeportasinya kembali ke Swedia hanya beberapa minggu kemudian.
Setelah protes awalnya, dia menyatakan ambisinya untuk terjun ke dunia Politik. Momika mengatakan kepada surat kabar Aftonbladet bahwa dia berharap suatu hari dapat mencalonkan diri untuk kursi di parlemen sebagai perwakilan dari Partai Demokrat Swedia, partai anti-imigrasi yang mendukung pemerintahan koalisi Perdana Menteri Ulf Kristersson.
Namun, pada saat itu, Partai Demokrat Swedia dengan tegas mengatakan bahwa tindakan Momika tidak mewakili partai tersebut.
Courtesy: Media






























































































Beri Komentar