ADVERTISMENT
EDUKASI
EDUKASI

Dari Bengkel ke Mimbar Sarjana: Kisah Inspiratif Wisudawan Wirausaha USK

“Kami tidak lulusan tercepat, juga bukan cumlaude. Tapi keberhasilan bukan hanya soal angka, melainkan tentang perjalanan dan makna perjuangan di baliknya,” ujarnya.

Ia mengingatkan agar para wisudawan tidak hanya menjadi konsumen pasif. “Ambil sedikit bagian dari konten itu yang bisa kita terapkan di hidup kita, enggak apa-apa sedikit tapi berdampak,” pesannya. Ia juga menegaskan, “Ilmu yang tidak merubah keadaan itu hanya omong kosong saja.”

Dalam pandangannya, di tengah tantangan bangsa akan lapangan pekerjaan dan mimpi banyak orang untuk menjadi ASN, wirausaha menjadi salah satu solusi.

“Kita terbiasa dengan narasi bahwa sukses itu hanya jika bekerja di kantor atau menjadi pegawai negeri.

“Namun realitanya, lapangan pekerjaan tidak bertambah sebanyak jumlah lulusan. Di sinilah kewirausahaan hadir. Bukan hanya untuk mencari penghidupan, tapi untuk menciptakan penghidupan bagi diri sendiri dan orang lain. Ini adalah kontribusi nyata kita untuk bangsa,” bebernya.

Berita Lainnya:
UIN Ar-Raniry Peringkat 2 Nasional, Ungguli Kampus Top di Riset Hukum

USK dan Estafet Mimpi

Wisuda ini menandai akhir dari sebuah babak, namun juga awal dari sebuah perjalanan baru. Sejalan dengan semangat para wisudawan, USK tahun ini menyambut 8.152 mahasiswa baru. Kehadiran mereka menjadi simbol regenerasi mahasiswa USK, yang akan melanjutkan estafet perjuangan akademik dan pengabdian.

“Bagi mahasiswa baru, universitas telah menyiapkan berbagai program pembinaan akademik dan non-akademik, termasuk pembinaan karakter, penguatan soft skills, hingga program kewirausahaan,” ujar Rektor USK, Prof Marwan.

Ia menegaskan, bahwa pembinaan ini merupakan komitmen USK untuk mendampingi mahasiswa hingga mereka menjadi alumni yang siap bersaing di tingkat global. Dengan begitu, akan ada kesinambungan antara para wisudawan hari ini dengan mahasiswa baru yang baru saja menapaki langkah pertama mereka.

Berita Lainnya:
Dosen USK Jadi Pembicara Utama di Jepang, Bahas Pendidikan sebagai Kunci Ketangguhan Bencana

Di penghujung pidatonya yang sarat makna, Riski menceritakan sebuah kenangan yang menjadi fondasi perjuangannya. Saat ia ingin menyerah dan tidak melanjutkan kuliah, ibunya, seorang buruh tani, berdiri tegak dan berkata, “Jak kuliah, neuk. Ibu memang tak punya harta, tapi ibu punya harapan. Kalau perlu, ibu jual satu-satunya sertifikat tanah yang kita punya. Yang penting kamu kuliah.”

Maka, Riski Maulana berdiri di sana, bukan hanya sebagai seorang sarjana dari USK, melainkan sebagai perwujudan dari sebuah janji, bukti nyata bahwa cinta dan pengorbanan orang tua bisa menembus segala batas. Ia adalah simbol bahwa perjuangan, yang dipupuk dengan keringat dan keberanian, akan selalu bermuara pada panggung kehormatan.[]

1 2 3
Logo
Suara Netizen
Memuat konten netizen...
ADVERTISMENT
Update Terbaru
ADVERTISMENT
Orinews Logo
Update Terbaru
Memuat Artikel...
MEMUAT BERITA...

Reaksi

Berita Lainnya