BANDA ACEH – Prof. Jiang Xueqin memprediksi bahwa Amerika Serikat berpotensi menghadapi kesulitan serius dalam perang melawan Iran.Dalam analisanya, terdapat sejumlah faktor strategis, ekonomi, dan Politik yang dinilai dapat menghambat keberhasilan Washington dalam konflik jangka panjang.
Menurut Jiang, Iran telah mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan konfrontasi dengan Amerika Serikat selama dua dekade terakhir, baik secara militer maupun ideologis.
Teheran disebut mengadopsi strategi perang atrisi, yakni pendekatan pelemahan bertahap terhadap lawan melalui konflik berkepanjangan yang menguras sumber daya.
Strategi tersebut tidak dijalankan secara langsung semata, melainkan melalui jaringan kelompok proksi di kawasan.
Di antaranya adalah Houthi di Yaman, Hezbollah di Lebanon, serta Hamas di Palestina, selain berbagai milisi Syiah di kawasan Timur Tengah.
Melalui jaringan ini, Iran dinilai mampu memperluas tekanan terhadap kepentingan AS dan sekutunya tanpa harus terlibat dalam konfrontasi terbuka secara penuh.
Faktor kedua yang disorot adalah ketimpangan biaya dalam sistem persenjataan. Jiang menilai bahwa sistem pertahanan Amerika Serikat masih bertumpu pada teknologi mahal yang dirancang pada era Perang Dingin.
Dalam konteks peperangan modern yang banyak melibatkan drone dan senjata berbiaya rendah, situasi ini menciptakan ketidakseimbangan ekonomi dalam pertempuran.
Sebagai contoh, Amerika Serikat dapat menghabiskan rudal pencegat bernilai jutaan hingga puluhan juta dolar untuk menjatuhkan drone yang harganya jauh lebih murah.
Ketimpangan ini, menurut Jiang, berpotensi menguras persediaan amunisi dan anggaran pertahanan AS dalam konflik jangka panjang, sehingga menimbulkan persoalan keberlanjutan logistik.
Serangan terhadap Infrastruktur Strategis Negara Teluk
Analisis tersebut juga menyoroti kemungkinan strategi Iran untuk menargetkan infrastruktur vital di negara-negara Teluk, bukan sekadar instalasi militer.
Negara-negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Qatar dinilai rentan terhadap serangan pada fasilitas energi maupun pabrik desalinasi air.
Fasilitas desalinasi memiliki peran krusial dalam penyediaan air bersih di kawasan tersebut. Kerusakan pada infrastruktur ini dapat melumpuhkan aktivitas ekonomi dan kehidupan masyarakat dalam waktu relatif singkat.
Jika negara-negara Teluk mengalami gangguan besar, dampaknya tidak hanya bersifat regional, tetapi juga global mengingat peran strategis mereka dalam pasar energi dunia.
Jiang juga menekankan pentingnya stabilitas negara-negara Teluk bagi ekonomi Amerika Serikat. Selama beberapa dekade, sistem petrodolar membuat negara-negara produsen minyak mendaur ulang pendapatan mereka ke dalam pasar keuangan AS, termasuk investasi di sektor teknologi dan kecerdasan buatan.































































































