WASHINGTON D.C. – Di tengah eskalasi militer yang kian mencekam antara koalisi Amerika Serikat-Israel melawan Iran, sebuah pemandangan kontemplatif muncul dari pusat komando tertinggi Amerika.
Daftar Isi
Presiden Donald Trump dilaporkan menggelar sesi doa bersama di Ruang Oval (Oval Office), sebuah momen yang jarang terekspos secara emosional di tengah persiapan perang.
Video yang dibagikan oleh Wakil Kepala Staf Gedung Putih, Dan Scavino, memperlihatkan sisi lain dari sang Panglima Tertinggi.
Dalam rekaman video di atas, Presiden Trump tampak duduk di kursi kebesarannya dengan mata terpejam dan kepala tertunduk khidmat, dikelilingi oleh tokoh-tokoh kunci dari lingkaran pendeta Evangelis Amerika Serikat.
Simbolisme “Peletakan Tangan” di Tengah Krisis
Para pemimpin agama yang datang dari berbagai penjuru negeri tersebut tampak meletakkan tangan mereka di bahu dan punggung Presiden Trump. Dalam tradisi iman tertentu, ritual ini melambangkan penyerahan kekuatan, hikmat, dan perlindungan ilahi.
Laporan dari CNN International dan Fox News menyebutkan bahwa doa tersebut difokuskan pada permohonan keselamatan bagi para prajurit yang bertugas di garda depan, serta kebijaksanaan bagi presiden dalam mengambil keputusan krusial yang dapat menentukan arah perdamaian dunia.
Dukungan Basis Massa di Tengah Tekanan Global
Langkah ini dinilai oleh analis politik sebagai upaya memperkuat dukungan internal di dalam negeri.
Media internasional seperti The Guardian menyoroti bahwa keterlibatan kaum Evangelis bukan sekadar urusan spiritual, melainkan pilar dukungan politik yang kuat bagi kebijakan luar negeri Trump di Timur Tengah.
“Ini adalah pesan bahwa dalam menghadapi ancaman besar dari Teheran, Amerika tidak hanya mengandalkan kekuatan rudal hipersonik atau armada kapal induk, tetapi juga landasan moral dan spiritual,” ungkap seorang pengamat politik di Washington.
Reaksi Dunia: Antara Harapan dan Ketegangan
Momen di Ruang Oval ini terjadi hampir bersamaan dengan pameran kekuatan militer Iran yang merilis rekaman “Gudang Kiamat” bawah tanah mereka. Dunia kini menyaksikan dua kutub yang kontras: satu sisi memamerkan arsenal teknologi mematikan, sementara di sisi lain, pemimpin negara adidaya mencari kekuatan melalui doa.
Beberapa media di Timur Tengah, termasuk Al Jazeera, mencermati bahwa penggunaan narasi agama dalam konflik ini dapat memperlebar jurang ideologis, namun bagi pendukung Trump, hal ini adalah bukti kepemimpinan yang berintegritas di masa sulit.
Pesan dari Gedung Putih
Dan Scavino dalam keterangannya tidak memberikan rincian strategi militer, namun ia menegaskan bahwa Presiden tetap teguh.























































































































