UPDATE

Salam.life
DUNIA
INTERNASIONALTIMUR TENGAH

Tiga Kapal Induk AS Kepung Iran Jelang 22 April, Teheran Ancam Tenggelamkan Armada di Selat Hormuz

TEHERAN — Ketegangan militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat tajam menjelang berakhirnya masa gencatan senjata pada 22 April.

Washington dilaporkan mengerahkan tiga kapal induk sekaligus ke kawasan Laut Arab, sebuah langkah strategis yang dinilai sebagai upaya mengepung Teheran.

Dua pejabat pertahanan AS yang dikutip Associated Press, Minggu (19/4/2026), mengonfirmasi bahwa kapal induk terbesar di dunia, USS Gerald R. Ford, telah kembali dikerahkan ke Timur Tengah setelah sebelumnya sempat ditarik akibat insiden kebakaran.

Aksi Kaninus 16

Kapal induk tersebut kini dilaporkan telah memasuki Laut Merah usai melintasi Terusan Suez, didampingi dua kapal perusak, yakni USS Mahan dan USS Winston S. Churchill.

“USS Ford telah memasuki Laut Merah dan saat ini beroperasi di wilayah tersebut,” ujar salah satu pejabat yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Sebelumnya, USS Gerald R. Ford sempat menjalani perbaikan setelah kebakaran terjadi di area pencucian kapal. Meski demikian, kapal ini baru saja mencatatkan rekor sebagai penugasan kapal induk AS terlama sejak era Perang Vietnam.

Dengan kembalinya USS Ford, kini terdapat tiga kapal induk AS di kawasan. USS Abraham Lincoln saat ini berada di Laut Arab dan memimpin operasi blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran di sekitar Selat Hormuz.

Sementara itu, kapal induk USS George H. W. Bush dilaporkan tengah menuju kawasan tersebut dan saat ini berada di perairan lepas pantai Afrika Selatan.

Di tengah peningkatan tekanan militer tersebut, Iran menunjukkan sikap tegas dan tidak gentar. Pada Kamis (16/4/2026), Teheran mengklaim telah mengarahkan sistem peluncur rudalnya ke kapal-kapal perang AS, termasuk USS Abraham Lincoln.

Ancaman keras disampaikan oleh penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei. Dalam wawancara televisi, ia menyatakan bahwa seluruh armada laut AS di sekitar Selat Hormuz kini berada dalam jangkauan rudal Iran.

“Angkatan Laut Amerika berada di bawah peluncur rudal kami. Semua kapal perang mereka kini dalam bidikan, dan kami akan menenggelamkan semuanya tanpa kecuali,” tegas Rezaei.

Ia juga menilai gencatan senjata yang sedang berlangsung bukanlah solusi nyata. “Ini bukan gencatan senjata, melainkan hanya keheningan sementara,” ujarnya.

Rezaei, yang merupakan mantan panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), baru diangkat sebagai penasihat militer Ayatollah Mojtaba Khamenei pada Maret lalu.

Dalam pernyataannya, ia turut menyindir Presiden AS Donald Trump yang disebutnya ingin berperan sebagai “polisi” di Selat Hormuz.

“Apakah itu tugas Amerika? Kapal-kapal mereka justru menghadapi bahaya besar dan bisa dihancurkan oleh rudal kami kapan saja,” katanya.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital distribusi energi dunia. Setiap eskalasi konflik di kawasan ini berpotensi mengganggu stabilitas pasokan minyak global dan memicu dampak luas terhadap ekonomi internasional. (*)

image_print
Stories
Story Terbaru
MEMUAT STORY...

Bagaimana reaksi Kamu?

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.