Semangat kemanusiaan ini juga tercermin dari gelombang donasi yang mengalir. Menurut penyelenggara, dana yang telah terkumpul hingga hari ini mencapai Rp2 miliar. Namun, ini hanyalah permulaan. Penggalangan dana akan terus dibuka hingga 10 Agustus 2025, melalui berbagai kanal: situs digital bit.ly/AcehUntukPalestina, transfer ke rekening resmi AKSI, QR Code di lokasi publik, serta penggalangan tunai melalui kantor-kantor pemerintahan dan pusat kegiatan masyarakat.
“Ini bukan tentang besar kecilnya jumlah. Ini tentang keberanian untuk tidak tinggal diam. Hari ini, Aceh membuktikan bahwa nurani itu masih hidup,” ujar Ali Amril, Direktur QUPRO Indonesia, menekankan esensi dari gerakan ini.
Panggung konser menjadi magnet utama, diwarnai penampilan musisi spiritual nasional, Opick, yang membawakan lagu-lagu bertema perjuangan dan kemanusiaan, menyentuh hati ribuan hadirin. Disusul oleh orasi inspiratif dari tokoh-tokoh Aceh, seniman lokal, dan pimpinan ormas Islam yang tak henti-hentinya menyampaikan pesan moral dan seruan dukungan untuk rakyat Palestina.
Hubungan emosional antara Aceh dan Palestina bukanlah hal baru. Saat tsunami meluluhlantakkan Aceh pada tahun 2004, Palestina adalah salah satu dari sedikit negara yang sigap menyampaikan dukungan dan menggalang bantuan melalui jejaring dunia Arab. Kini, dua dekade setelah bencana itu, Aceh membalas uluran tangan tersebut dengan memilih untuk tidak tinggal diam di tengah penderitaan saudara-saudara di Palestina.
Gerakan kolosal ini sekali lagi membuktikan bahwa Aceh menjawab seruan Palestina bukan hanya karena alasan politik atau ekonomi, melainkan karena iman, sejarah, dan panggilan kemanusiaan yang tak pernah padam.
































































































