Deradikalisasi yang dibungkus dalam kurikulum ini sejatinya adalah upaya melemahkan identitas Islam sejak bangku sekolah. Anak-anak akan tumbuh dengan pola pikir moderat-ala-Barat, yang menolak penerapan syariat secara totalitas, dan lebih menghargai pluralisme ala sekuler ketimbang persaudaraan sesama Muslim.
Daftar Isi
Kurikulum Islam Berbasis Akidah
Islam menetapkan bahwa kurikulum pendidikan harus berbasis akidah Islam. Akidah adalah pondasi yang menentukan arah berpikir, bersikap, dan bertindak seorang Muslim. Negara Islam memiliki kewajiban menjaga akidah rakyatnya, termasuk melalui pendidikan.
Allah berfirman: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran: 104)
Ayat ini menegaskan bahwa fungsi pendidikan bukan hanya mencetak manusia berilmu, tetapi juga membentuk mereka menjadi pelaksana amar ma’ruf nahi mungkar.
Sejarah Emas Pendidikan Islam
Sejarah mencatat, pendidikan Islam di masa Rasulullah ﷺ hingga Khilafah mampu melahirkan generasi cemerlang yang menguasai ilmu agama sekaligus ilmu dunia. Di masa Khalifah Harun Al-Rasyid, misalnya, lembaga pendidikan seperti Baitul Hikmah melahirkan ulama sekaligus ilmuwan yang menguasai astronomi, kedokteran, matematika, dan filsafat—tanpa melepaskan akidah Islam.
Begitu pula di masa Khalifah Al-Mu’tashim Billah, pendidikan melahirkan generasi yang memiliki keberanian membela kehormatan umat. Kisahnya terkenal ketika seorang wanita Muslimah dilecehkan di wilayah Romawi, lalu ia berteriak “Wahai Mu’tashim!”. Sang khalifah merespons dengan mengirim pasukan besar hingga benteng Romawi runtuh. Pendidikan Islam kala itu tidak hanya mencetak orang pintar, tapi juga pemimpin pemberani yang menjaga izzah umat.
Solusi: Kembalikan Pendidikan Berbasis Islam
Pendidikan dalam Islam harus diarahkan untuk membentuk generasi yang memiliki kepribadian Islam: pola pikir (aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah) yang Islami. Kurikulum harus mencakup penguasaan ilmu agama dan sains, dengan akidah Islam sebagai asasnya.
Di bawah sistem Khilafah, negara mengatur pendidikan agar melahirkan ulama, pemimpin, dan ilmuwan yang mampu memimpin dunia. Ilmu tidak dipisahkan dari iman, dan cinta tidak dipisahkan dari loyalitas kepada Allah dan Rasul-Nya.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa pendidikan yang benar adalah pendidikan yang menuntun manusia menuju ridha Allah, bukan sekadar kesuksesan dunia.
Mewaspadai “Cinta” yang Menyesatkan
Kurikulum Cinta yang diluncurkan Kemenag memang terdengar manis, namun umat Islam harus waspada terhadap ide-ide yang memisahkan generasi dari ajaran agamanya. Pendidikan Islam sejati tidak bisa lahir dari asas sekuler, melainkan hanya dari akidah Islam.































































































Beri Komentar