BANDA ACEH – Dalam sidang darurat Dewan Keamanan PBB, Wakil Tetap Rusia Untuk PBB Vasily Nebenzya melontarkan kecaman keras terhadap tindakan militer Amerika Serikat dan Israel yang menargetkan wilayah Iran. Nebenzya menyebut serangan tersebut sebagai pengkhianatan Amerika dan Israel pada piagam PBB.”Ini adalah tikaman dari belakang terhadap diplomasi. Serangan dilakukan di tengah proses negosiasi aktif, membuktikan bahwa AS dan Israel tidak memiliki niat tulus untuk penyelesaian damai,” tegas Nebenzya di hadapan anggota Dewan Keamanan.
Nebenzya menegaskan bahwa serangan bertajuk “Operasi Epic Fury” tersebut merupakan bentuk pengkhianatan terhadap proses perdamaian. Menurutnya, serangan itu terjadi justru saat Iran dan Amerika Serikat sedang berada di ambang kemajuan negosiasi diplomatik melalui mediasi Oman.
Rusia juga menyoroti dampak kemanusiaan yang menghancurkan. Nebenzya mengutip laporan jatuhnya ratusan korban jiwa, termasuk serangan yang menghantam sekolah anak perempuan di Minab yang menewaskan puluhan anak-anak.
Selain itu, Rusia memperingatkan risiko bencana nuklir global. Moskow menolak klaim Presiden Donald Trump bahwa serangan tersebut bertujuan menghentikan program senjata nuklir Iran. Nebenzya menyatakan bahwa fasilitas yang diserang berada di bawah pengawasan IAEA dan tidak ada bukti kuat Iran sedang mengembangkan senjata nuklir.
“Tindakan Washington dan Yerusalem Barat tidak lain adalah tindakan agresi bersenjata yang tidak beralasan terhadap negara berdaulat anggota PBB,” tambahnya.
Rusia mendesak agar Amerika Serikat dan Israel segera menghentikan aksi agresif mereka. Nebenzya memperingatkan bahwa eskalasi ini dapat memicu konflik regional yang tak terkendali dan merusak stabilitas energi serta ekonomi dunia. Rusia menyatakan kesiapannya untuk memfasilitasi dialog guna menarik kawasan tersebut kembali dari ambang peperangan besar.






























































































