Ia sudah akrab dan terbiasa dengan lingkungan masyarakat Sunda, berbaur dengan adat istiadat yang berlaku di Tatar Sunda, hingga menemukan jodohnya di Tanah Priangan itu.
Yaitu juniornya di ITB, Herawati, yang selain berprofesi arsitek juga aktivis sosial yang semasa hidup banyak mencurahkan misi kemanusiaan di Tanah Priangan.
Ritual adat “Naik Lisung Pajajaran” yang diterima Rizal Ramli dari masyarakat adat Sunda di Sukabumi ini merupakan simbol pengakuan lengkap terhadap Rizal Ramli, yang meski lahir di Tanah Minang Rizal Ramli merupakan tokoh pluralis.
Spektrum pergaulannya yang luas bersentuhan erat dengan berbagai suku, etnis, budaya dan agama, bahkan antarnegara.
Sebelumnya gelar adat antara lain juga pernah diberikan Sultan Tidore kepada Rizal Ramli.
Salah satu tokoh pemimpin kawasan Timur Indonesia ini mendaulat Rizal Ramli sebagai Ngofa Tidore (Putra Tidore), karena pembelaannya terhadap nasib rakyat Timur Indonesia yang disuarakannya dalam sebuah forum talkshow di TVOne beberapa tahun lalu.
Pertalian kisah hidup Rizal Ramli dengan Bogor (Tanah Pasundan dan Priangan) esensinya dipertautkan oleh ikatan batin. Bukan sekadar memori, tetapi juga perasaan cinta terhadap kebhinnekaan bangsa.
Upacara adat “Naik Lisung Pajajaran” dan kunjungannya ke Museum Siliwangi ini ternyata memperkuat ikatan batin itu.
(Penulis adalah Pemerhati Sejarah)




































































































Beri Komentar