Rabu, 01/05/2024 - 23:03 WIB
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi

TERBARU

ISLAM

Ahli Falak NU Jelaskan Prediksi Empat Gerhana di Tahun Ini

ADVERTISEMENTS

JAKARTA — Anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Sirril Wafa menyampaikan, dalam Islam, peristiwa gerhana baik bulan maupun matahari tidaklah berkaitan dengan munculnya atau menjadi tanda akan terjadinya sesuatu di bumi.

ADVETISEMENTS
Ucapan Belasungkawa Thantawi Ishak mantan Komisaris Utama Bank Aceh

“Demikianlah wanti-wanti Nabi Muhammad SAW yang dengan tegas mengatakan bahwa kedua peristiwa itu (gerhana Bulan dan Matahari) tidak terjadi lantaran hidup atau matinya seseorang,” kata ahli falak Nahdlatul Ulama itu, kepada Republika.co.id, Ahad (28/1/2024).

ADVERTISEMENTS
Ucapan Selamat dan Sukses atas Pelantikan Reza Saputra sebagai Kepala BPKA
ADVERTISEMENTS
Ucapan Selamat Memperingati Hari Kartini dari Bank Aceh Syariah

Pesan tersebut, lanjut Sirril, cukup untuk menunjukkan bahwa umat Muslim tidak diperkenankan mengaitkan adanya peristiwa gerhana sebagai bahan prediksi untuk meramal. Artinya, kalau kemudian orang mencatat dari waktu ke waktu dengan menandai adanya peristiwa gerhana kemudian terjadi peristiwa besar atau yang fenomenal, maka itu bukan merupakan sebab-akibat.

ADVERTISEMENTS
Manyambut Kemenangan Idul Fitri 1445 H dari Bank Aceh Syariah
ADVETISEMENTS
Ucapan Belasungkawa Zakaria A Rahman dari Bank Aceh

“Mempercayai hal tersebut dalam konteks sebab-akibat akan merusak akidah. Terjadinya peristiwa gerhana adalah merupakan peristiwa biasa, sebagimana halnya terbit dan terbenamnya matahari di ufuk,” tuturnya.

ADVERTISEMENTS
Berita Lainnya:
Coba Ketik ‘Gerhana Matahari’ di Google, Animasi Unik akan Muncul untuk Pengguna

 

ADVERTISEMENTS
Mudahkan Hidup Anda!, Bayar PBB Kapan Saja, Di Mana Saja! - Aceh Singkil

Karena itu, Sirril mengungkapkan, bisa diperhitungkan dengan cermat kapan, di mana berapa lamanya peristiwa gerhana dengan cukup presisi. “Bedanya, kalau terbit terbenamnya matahari terjadi setiap hari, kalau gerhana tidak,” ujarnya.

Dia menjelaskan, secara astronomi, peristiwa gerhana akan terjadi ketika matahari dan bulan berada pada bujur ekliptika yang sama. Kalau nilainya sama persisi maka akan terjadi gerhana total atau cincin (annular). Jika bergeser dari titimtengahnya, maka akan terjadi gerhana partial, bahkan hanya penumbral.

Adapun untuk tahun 2024 ini, diprediksi akan terjadi dua gerhana bulan. Gerhana bulan pertama diprediksi terjadi pada 25 Maret 2024. Namun menurut Sirril, tipe gerhananya penumbral dan tidak bisa disaksikan di Indonesia.

“Penumbral itu lingkaraan wajah bulan tidak terkikis sebagaimana lazimya gerhana yang sering kita saksikan. Namun lingkaran wajah bulan hanya terkena bayangan semu bumi. Yang tampak saat terjadinya gerhana penumbra itu, bahwa bulan akan tampak relatif redup, tapi lingkarannya masih utuh,” ujarnya.

Berita Lainnya:
Tanda Kiamat Ini Terus Bermunculan Saat Ini dan Dilakukan Secara Lebih Sadis 

Gerhana bulan yang kedua diprediksi akan terjadi pada 18 September 2024 dengan tipe parsial, yakni gerhana bulan sebagian. “Ini juga tidak bisa disaksikan di wilayah Indonesia. Gerhana akan melewati wilayah Amerika, Eropa dan Afrika,” kata Sirril.

Sedangkan gerhana matahari, diprediksi akan terjadi dua kali pada 2024. “Ini juga tidak bisa disaksikan di Indonesia. Yang pertama diprediksi tanggal 8 April 2024, tipenya di sebagian wilayah akan tampak total yang melewati antara lain Meksiko, dan Kanada. Di tempat lain ada yang bertipe penumbral,” jelasnya.

Gerhana matahari yang kedua diprediksi terjadi tanggal 2 Oktober 2024, tipenya Annular (gerhana matahari cincin). Antara lain akan terlhat di Argentina,” paparnya.

Sumber: Republika

ADVERTISEMENTS

x
ADVERTISEMENTS

Reaksi & Komentar

Berita Lainnya

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ditemukan berita/artikel lainnya.
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi