“Kita memerlukan sinkronisasi antara legislatif dan eksekutif, serta hubungan yang erat antara pemerintah daerah dan pusat. Jika kita ingin maju, komunikasi ini harus intens. Pasangan Mualem-Dek Fadh memiliki jaringan kuat di pusat, dan ini menjadi modal untuk mewujudkan kemajuan Aceh,” ujar Tu Haidar.
Lebih lanjut, ia menyampaikan kekhawatirannya atas kondisi Aceh yang, menurutnya, belum mampu mengoptimalkan dana otonomi khusus yang jumlahnya cukup besar. Menurut Tu Haidar, dalam lima tahun terakhir, Aceh mengalami stagnasi pembangunan yang menyebabkan kesejahteraan masyarakat belum terwujud. Ia menyinggung bahwa anggaran otonomi khusus (Otsus) sebesar Rp14 triliun yang dimiliki Aceh masih belum memberikan dampak yang signifikan bagi pembangunan dan kesejahteraan.
“Realitanya, kita lihat bahwa komunikasi intensif dengan pemerintah pusat sangat dibutuhkan, dan Mualem-Dek Fadh bisa mengatasinya, karena pasangan ini memiliki hubungan erat dengan pemerintah pusat. Apalagi dengan kondisi Aceh yang saat ini menduduki peringkat termiskin di Sumatera juga sangat dipengaruhi oleh kualitas pemimpinnya,” ujar Tu Haidar.
Di akhir kunjungan, Dek Fadh mendapatkan penghormatan dengan prosesi peusijuek oleh Tu Muhammad dan Tu Haidar sebagai simbol restu untuk perjuangan ke depan. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyerahan santunan kepada anak-anak yatim. Momen ini sekaligus diiringi doa bersama, memohon agar segala hajat dan rencana yang diinginkan demi kemajuan Aceh dapat tercapai.
Silaturrahmi ini menunjukkan komitmen pasangan nomor urut 02, Mualem-Dek Fadh dalam merangkul para ulama dan tokoh masyarakat Aceh untuk mendapatkan dukungan dalam menjalani kontestasi Pilgub Aceh 2024. Diharapkan, dengan dukungan serta doa restu dari para ulama dan masyarakat, Aceh dapat menyongsong masa depan yang lebih baik di bawah kepemimpinan yang amanah dan mampu menjawab tantangan daerah.[]






























































































Beri Komentar