Saat-saat itu menjadi salah satu periode paling menegangkan dalam hidupnya. Shaykh Uthman menghabiskan malam-malam di loteng rumahnya, berjaga dengan senjata api, menunggu kemungkinan serangan dari mantan rekan-rekannya. Ia khawatir mereka akan menembaki rumahnya dan membahayakan ibunya.
Namun, setelah beberapa hari berlalu tanpa adanya serangan, ia merasa bersalah karena tidak membagikan kebenaran Islam yang telah mengubah hidupnya kepada teman-teman gengnya. Meski sadar akan risikonya, ia memutuskan untuk kembali ke wilayah geng.
“Saya berjalan masuk ke lorong-lorong itu, mengenakan pakaian Muslim dan berjanggut. Mereka tidak mengenali saya pada awalnya,” ceritanya. Ketika akhirnya dikenali, salah satu teman lamanya berkata, “Saya tidak tahu apa yang kamu lakukan di sini, tapi saya bersumpah kamu tidak akan keluar dari sini hidup-hidup.”
Namun, Shaykh Uthman meminta lima menit untuk menjelaskan apa yang telah mengubah hidupnya. Lima menit itu berubah menjadi diskusi selama dua setengah jam tentang Islam. Akhirnya, ia diizinkan pergi dengan satu syarat: jangan pernah kembali. Tapi Shaykh Uthman bersikeras: ia akan pergi jika mereka berjanji untuk mengunjungi masjid sekali saja. Secara mengejutkan, beberapa dari mereka setuju, dan beberapa bahkan akhirnya memeluk Islam.
Perjalanan Mencari Ilmu
Perubahan sejati tidak hanya tercermin dari penampilan luar atau lingkaran pergaulan, tetapi juga dari kesungguhan seseorang dalam mengisi dirinya dengan pengetahuan. Setelah menemukan jalan Islam, Shaykh Uthman ibn Farooq menyadari bahwa untuk berdakwah dengan benar, ia membutuhkan lebih dari sekadar semangat—ia memerlukan ilmu yang mendalam. Inilah yang menandai awal perjalanan intelektualnya yang luar biasa.
Setelah menemukan jalan Islam, Shaykh Uthman tidak berhenti di situ. Di awal usia dua puluhan, terinspirasi oleh Shaykh Dr. Awad al-Garguri, ia memutuskan untuk mengejar ilmu Islam secara serius. Keputusan ini bukanlah hal yang mudah, mengingat ia harus meninggalkan zona nyamannya dan menghadapi tantangan baru dalam bidang akademis yang selama ini mungkin asing baginya.
Selama sepuluh tahun berikutnya, ia menyeimbangkan pendidikan sekuler dan studi Islam. Shaykh Uthman berhasil meraih gelar sarjana di bidang Teknologi Informasi dan MBA eksekutif dalam manajemen teknologi, sambil mendapatkan ijazah tradisional (akreditasi) dalam teks-teks Islam klasik dari ulama-ulama terkemuka. Kemampuan untuk mengelola dua jalur pendidikan yang berbeda ini menunjukkan disiplin dan dedikasi luar biasa—kualitas yang jauh berbeda dari kehidupan jalanannya yang dulu.



































































































Beri Komentar