UPDATE

ISLAM
ISLAM

Loneliness in The Crowd: Keramaian Digital Membawa Kesepian

Fenomena kesepian digital melanda generasi Z di tengah hiruk pikuk media sosial. Artikel ini mengulas dampak media sosial terhadap relasi sosial, kesehatan mental, dan solusi Islam untuk menguatkan ukhuwah.

SESEORANG yang sangat aktif di media sosial — like, comment, share, live — belum tentu bebas dari rasa sunyi. Meski tampak “terhubung”, kenyataannya interaksi nyata seringkali minim.

Advertisements
Selamat Hari Tentara Nasional Indonesia ke-81

Penelitian mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY dengan judul “Loneliness in the Crowd: Eksplorasi Literasi Media Digital pada Fenomena Kesepian di TikTok” menyoroti bagaimana konten audiovisual dengan efek hiperrealitas dapat memicu perasaan kesepian.

Representasi digital dianggap lebih nyata dibanding kenyataan fisik, dan emosi yang dibentuk media memengaruhi kesehatan mental dan relasi sosial.

Fenomena ini semakin relevan di kalangan generasi Z, yang dibesarkan di tengah gawai dan algoritma media sosial.

Meski tubuh mereka berada dalam keramaian kelas, rumah, atau kafe, hati dan pikiran bisa terasa terisolasi di balik layar.

Kesepian di Tengah Gaung Digital

Generasi muda memiliki berbagai potensi seharusnya menjadi tulang punggung umat: inovator, da’i, pengusaha, pemimpin masa depan.

Tapi, jika mereka terus tenggelam dalam kesepian digital, kreativitas akan padam, empati akan pudar, dan hasrat berjuang meredup.

Umat yang kehilangan relasi sosial kuat, kehilangan solidaritas, kehilangan jiwa kolektif — akan menjadi umat no man’s land: sendiri-sendiri dalam kesepian, tak peduli dengan penderitaan saudaranya di Palestina, Rohingya, atau Yaman. Mereka disibukan dengan dirinya sendiri.

Lahirlah generasi asosial di dunia nyata yang menghantarkan keretakan hubungan intrafamilial. Media sosial membentuk tipe interaksi baru: singkat, reaktif, dan instan.

Pesan instan, emoji, stiker—itulah sebagian bahasa mereka. Padahal, hubungan manusia butuh tatap mata, kehadiran, senyum, belaian — yang tak bisa disampaikan via teks atau video.

Kerenggangan bahkan terjadi dalam keluarga. Anak di ruang tamu sibuk dengan ponselnya, orang tua pun asyik di layar mereka sendiri.

Kehangatan rumah bisa terkikis. Komunikasi fisik jadi jarang. Keterikatan emosional tergerus media instan. Serumah tapi tidak sejiwa.

Tentu fenomena ini akan membawa petaka bagi umat. Generasi kini akan kehilangan potensinya yang berarti.

Kesepian digital bukan sekadar akibat kurangnya teman. Di era sekuler liberal, media sosial dijadikan panggung wacana, citra, dan reputasi.

Orang berlomba menampilkan kisah terbaik mereka — pekerjaan, relasi, liburan. Namun di balik itu, jiwa bisa kosong. Litera­si digital dan pengendalian diri yang lemah makin memperburuk keadaan.

image_print

1 2 3

Bagaimana reaksi Kamu?

Beri Komentar

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.