UPDATE

ISLAM
ISLAM

Narkoba, Kapitalisme, dan Nasib Remaja Kita

Sementara itu, keluarga dan masyarakat juga tergerus oleh nilai kapitalisme. Orang tua sibuk mengejar materi, sementara ikatan sosial melemah karena individualisme yang makin menajam.

Dalam kondisi demikian, remaja kian dibiarkan berjuang sendiri di tengah derasnya arus globalisasi dan penetrasi budaya asing. Mereka pun rentan kehilangan jati diri, terperangkap dalam lingkaran gelap kapitalisme yang hanya mementingkan keuntungan materi tanpa peduli pada hancurnya moral dan masa depan generasi.

Advertisements
Selamat Hari Tentara Nasional Indonesia ke-81

Islam dan Pembentukan Pemuda Tangguh

Di tengah rapuhnya generasi muda akibat sistem kapitalisme, Islam menawarkan solusi menyeluruh. Islam tidak hanya memberikan pedoman moral, tetapi juga membangun tatanan keluarga, masyarakat, dan negara untuk melahirkan generasi berkualitas, berakhlak, dan berdaya guna.

Al-Qur’an mengingatkan:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6).

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ayat dan hadis ini menegaskan kewajiban kolektif—orang tua, masyarakat, hingga negara—untuk melindungi dan membina generasi muda.

Dalam sistem Islam, negara wajib menyediakan pendidikan gratis berbasis akidah, dengan kurikulum yang menanamkan iman, akhlak, dan tsaqafah Islam sejak dini, di samping ilmu pengetahuan umum.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menekankan bahwa pendidikan sejati adalah yang menumbuhkan ketaatan kepada Allah, bukan sekadar kecakapan duniawi. Media pun diarahkan untuk hanya menayangkan konten yang mendidik, sementara peredaran narkoba, pornografi, maupun budaya hedonisme dicegah secara tegas.

Keluarga dalam Islam menjadi madrasah pertama bagi anak. Orang tua didorong menanamkan tauhid, akhlak, serta kecintaan pada Al-Qur’an sejak dini. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidaklah seorang ayah memberikan sesuatu yang lebih utama kepada anaknya daripada pendidikan yang baik” (HR. Tirmidzi).

Masyarakat pun ikut bertanggung jawab menciptakan lingkungan yang kondusif, sementara negara hadir memberi dukungan regulasi dan fasilitas agar keluarga mampu mendidik anak dengan baik.

Generasi Emas dalam Sejarah Islam

Sejarah telah membuktikan, penerapan Islam secara menyeluruh mampu melahirkan generasi emas. Usamah bin Zaid, di usia 17 tahun, sudah dipercaya memimpin pasukan kaum Muslimin. Muhammad Al-Fatih menaklukkan Konstantinopel pada usia 21 tahun. Ibnu Sina menulis karya monumental Al-Qanun fi al-Thibb di usia muda, dan Ibnu Khaldun melahirkan teori sosial dalam Muqaddimah pada usia 20-an. Semua itu lahir dari sistem pendidikan Islam yang memadukan ilmu agama dan sains sekaligus, serta mengarahkan generasi muda agar menjadikan ilmunya sebagai ibadah dan pengabdian kepada umat.

image_print

1 2 3

Bagaimana reaksi Kamu?

Beri Komentar

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.