Dalam beberapa tahun terakhir, tidak jarang pejabat tinggi Eropa mengeluarkan pernyataan keras terkait “pengurangan risiko terhadap Tiongkok” menjelang atau setelah kunjungan ke Tiongkok. Sejumlah media Eropa juga terus menggaungkan narasi “ancaman Tiongkok”. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, misalnya, pernah menyebut adanya “distorsi” di pasar Tiongkok dan mendorong kebijakan de-risking terhadap Tiongkok, bahkan menjatuhkan sanksi kepada sebagian perusahaan Tiongkok dengan alasan dugaan dukungan terhadap Rusia. Di Jerman, sejumlah politisi mengakui pentingnya Tiongkok, namun pada saat yang sama tetap menyerukan “pengurangan risiko strategis”. Pendekatan yang mengedepankan sikap keras terhadap Tiongkok semacam ini patut dipertanyakan rasionalitas dan efektivitasnya.
Bagi para politisi Eropa yang kurang memiliki pandangan strategis jangka panjang, menyelaraskan diri sepenuhnya dengan strategi Amerika Serikat dianggap sebagai bentuk kepatuhan terhadap “kebenaran politik” Barat serta jalan pintas untuk menegaskan nilai aliansi transatlantik dan meredakan kecemasan strategis Eropa. Namun pada kenyataannya, otonomi strategis Eropa tidak pernah dapat dibangun dengan menunjukkan kekuatan terhadap pihak ketiga. Otonomi tersebut seharusnya bertumpu pada kekuatan internal Eropa sendiri, termasuk pemulihan ekonomi, pembangunan arsitektur keamanan yang mandiri, serta keberlanjutan nilai dan peradabannya. Demikian pula, stabilitas hubungan transatlantik tidak dapat dipertahankan dengan mengabaikan tantangan struktural internal Eropa dan terus menyalahkan faktor eksternal.
Saat ini, revolusi teknologi baru dan transformasi industri global tengah berlangsung dengan cepat. Dalam persaingan global, Eropa mulai menunjukkan keterbatasan daya saing, yang akar permasalahannya bersumber dari faktor internal. Sebagai tempat lahirnya Revolusi Industri, Eropa memiliki keunggulan awal dalam industri tradisional, namun proses transformasinya berjalan lambat, dengan tingkat integrasi digitalisasi dan kecerdasan buatan yang masih terbatas. Dalam sektor-sektor strategis baru seperti energi terbarukan, kecerdasan buatan, dan biomedis, Eropa relatif kekurangan perencanaan strategis jangka panjang dan konsolidasi sumber daya. Ditambah dengan hambatan pasar yang tinggi serta kebijakan regulasi yang konservatif, Eropa kesulitan mengikuti laju perubahan industri global, sehingga jarak dengan negara-negara terdepan semakin melebar.
Di ranah politik, perbedaan kepentingan antarnegara anggota Uni Eropa terkait alokasi fiskal dan distribusi manfaat terus berlangsung. Meningkatnya populisme juga mendorong sebagian negara lebih fokus pada isu politik jangka pendek, sementara komitmen terhadap investasi jangka panjang di bidang riset teknologi dan transformasi industri relatif lemah. Faktor-faktor ini secara kolektif melemahkan kapasitas pembangunan Eropa dan secara tidak langsung membatasi inovasi teknologi.
































































































Beri Komentar