Mengenai dua kapal tanker besar berbendera Indonesia yang belum bisa melewati Selat Hormuz, Dian menduga Iran meminta imbalan dari Indonesia, minimal melepaskan atau menjelaskan status kapal MT Arman 114 yang ditahan.
Iran disebut kecewa karena Indonesia gabung dengan BoP
Di sisi lain, pengamat ekonomi dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menduga bahwa sulitnya kapal Indonesia untuk melintasi Selat Hormuz disebabkan oleh Iran yang merasa “sakit hati” karena Indonesia masuk menjadi anggota Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian bentukan Presiden AS Donald Trump.
Tak hanya itu, dia juga menilai kesepakatan Indonesia dan AS dalam perjanjian tarif resiprokal turut menjadi alasan Iran seakan mempersulit izin agar kapal Pertamina Pride dan Gamsunoro untuk melintasi Selat Hormuz.
Bhima meminta agar pemerintah mencontoh langkah Malaysia yang enggan masuk menjadi anggota BoP serta membatalkan kerjasama tarif resiprokal dengan AS.
“(Dua kapal sulit melintasi Selat Hormuz) buntut dari masuknya Indonesia ke BoP dan perjanjian Agreement on Reciprocal Trade (ART) dengan AS.”
“Malaysia sudah membatalkan kerja sama ART dan mengecam agresi AS ke Iran. Indonesia sepertinya salah memilih posisi,” katanya ketika dihubungi, Jumat, (27/3/2026).
Bhima pun mendorong agar Indonesia keluar dari BoP dan membatalkan perjanjian tarif resiprokal dengan AS agar Iran “luluh” sehingga kapal bisa melintas di Selat Hormuz.
“Sekarang yang terpenting bukan melayani kemauan Trump, tapi menyelamatkan rakyat Indonesia,” tuturnya

































































































Beri Komentar