UPDATE

DIGITALEKONOMI

CEO Perusahaan Teknologi Sebut 2 Tipe Orang yang Sukses di Era AI, Termasuk ADHD dan Autisme

“Mereka melihat melampaui ideologi yang bersifat performatif dan mampu menemukan keindahan di dunia yang dapat diungkapkan melalui teknologi dan seni.”

Pendekatan ini mencerminkan skeptisisme Karp terhadap jalur karier tradisional.

Advertisements
Selamat Hari Tentara Nasional Indonesia ke-81

Meski memiliki tiga gelar, termasuk JD dari Stanford dan PhD filsafat dari Universitas Goethe di Jerman, Karp secara terbuka mengkritik keterbatasan pendidikan tinggi dalam ekonomi berbasis AI.

“AI akan menghancurkan pekerjaan di bidang humaniora,” ujar Karp dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, awal tahun ini.

“Jika Anda belajar di sekolah elit dan mengambil filsafat, saya contohkan diri saya sendiri, sebaiknya Anda memiliki keterampilan lain yang lebih mudah dipasarkan.”

Palantir juga meluncurkan Program Beasiswa Meritokrasi yang ditujukan bagi lulusan SMA yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi.

Di tengah menurunnya peluang kerja entry-level bagi Generasi Z, sebagian anak muda mulai meragukan bahwa gelar sarjana saja cukup untuk menjamin kesuksesan.

Namun, tidak semua pemimpin teknologi sepakat dengan pandangan tersebut.

Jaime Teevan, kepala ilmuwan Microsoft, menilai pendidikan tinggi, khususnya ilmu humaniora, justru tetap relevan di era AI.

Ia menekankan pentingnya keterampilan metakognitif seperti fleksibilitas, kemampuan beradaptasi, berpikir kritis, dan keberanian menantang ide.

“Keterampilan ini membutuhkan proses yang tidak mudah dan pemikiran mendalam. Dalam hal ini, pendidikan humaniora tradisional tetap penting,” ujarnya kepada The Wall Street Journal.

Berbeda dengan Karp, Daniela Amodei, salah satu pendiri perusahaan AI Anthropic, menyatakan bahwa nilai-nilai kemanusiaan akan semakin penting di era AI.

“Hal-hal yang membuat kita manusia justru akan menjadi lebih penting, bukan sebaliknya,” katanya kepada ABC News.

Menurutnya, perusahaan kini mencari individu dengan kemampuan komunikasi yang baik, empati tinggi, rasa ingin tahu, dan keinginan untuk membantu orang lain.

Pekerjaan yang Rentan dan Aman dari AI

Mengutip advisory.com, dalam studi terbaru dari GovAI dan Brookings Institution, peneliti menganalisis lebih dari 350 jenis pekerjaan berdasarkan tingkat paparan terhadap AI dan kemampuan adaptasi pekerjanya.

Paparan AI merujuk pada sejauh mana tugas dalam suatu pekerjaan dapat dilakukan lebih efisien oleh AI.

Hasilnya, sekitar 37,1 juta pekerja di AS berada dalam kategori paparan AI tertinggi, termasuk penulis, layanan pelanggan, dan penerjemah.

Namun, sekitar 26,5 juta di antaranya memiliki kemampuan adaptasi yang cukup tinggi, sehingga berpeluang beralih ke pekerjaan lain jika terdampak.

image_print

1 2 3
Story Terbaru
MEMUAT STORY...

Bagaimana reaksi Kamu?

Beri Komentar

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.