UPDATE

LIFESTYLE
LIFESTYLE

Seni Mencintai: Saat Cinta Memelukmu dengan Tenang, Bukan Mengekang

Oleh: Fajar Ilham1

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang jarang kita ajukan pada diri sendiri saat kita sedang jatuh hati: Ketika cinta bertamu di hatimu, apakah ia membuatmu kelelahan, ataukah ia menenangkan dan membawamu pada rasa damai?

Advertisements
Selamat Hari Tentara Nasional Indonesia ke-81

Dalam ingar-bingar dunia modern, cinta sering kali disalahartikan. Ia kerap direduksi menjadi sekadar hasrat untuk memiliki, atau sebuah teritori yang harus dipertahankan dengan segala cara, bahkan jika itu berarti melukai.

Kita sering terjebak dalam ilusi bahwa cinta yang besar adalah cinta yang meledak-ledak, penuh drama, dan menguras emosi. Namun, benarkah demikian?

Seorang filsuf dan psikoanalis terkemuka, Erich Fromm, dalam mahakaryanya yang tak lekang oleh waktu, The Art of Loving, mengajak kita meredefinisi makna cinta. Menurut Fromm, cinta bukanlah sebuah kebetulan yang kita “jatuhkan” begitu saja (falling in love), melainkan sebuah seni (an art). Sama seperti melukis atau bermain musik, cinta membutuhkan dedikasi, pengetahuan, dan upaya sadar.

Cinta, dalam bentuknya yang paling murni, adalah sebuah ketenangan.

Menghargai Proses dan Ritme Jiwa

Cinta yang tenang sangat menghargai proses. Ia tidak tergesa-gesa. Ia belajar menunggu, memahami, dan mau mendengarkan.

Erich Fromm menjabarkan bahwa cinta yang dewasa ditopang oleh empat elemen dasar: kepedulian (care), tanggung jawab (responsibility), rasa hormat (respect), dan pengetahuan (knowledge).

Coba resapi makna rasa hormat (respect) dari akar katanya, respicere, yang berarti kemampuan untuk melihat seseorang sebagaimana adanya.

Ketika kita bisa mempraktikkan ini, kita akan sampai pada satu titik kedewasaan emosional: Ketika kita bisa peduli, tetapi tidak terlalu menuntut. Ketika kita bisa hadir, tetapi tidak mengekang.

Cinta yang tenang muncul dari kesadaran bahwa setiap orang punya waktu, cara, dan ritmenya sendiri. Kita berhenti memaksa pasangan untuk menjadi versi yang kita inginkan, dan mulai mendukungnya untuk tumbuh menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.

Seperti kata Fromm, “Cinta adalah kepedulian aktif terhadap kehidupan dan pertumbuhan dari apa yang kita cintai.” Jika cinta itu justru menghambat atau mematikan pertumbuhan, maka itu bukanlah cinta, melainkan ego yang bersembunyi di balik kata sayang.

Tumbuh Secara Alami Melewati Badai

Tidak ada yang lebih indah daripada membiarkan hubungan berkembang secara alami. Di tanah yang bernama kebebasan inilah, kedua pihak belajar saling memahami, saling menghargai, dan saling mendukung tanpa rasa takut.

Fromm membedakan antara cinta yang tidak dewasa (immature love) dan cinta yang dewasa (mature love). Cinta yang tidak dewasa berkata: “Aku mencintaimu karena aku membutuhkanmu.” Sementara cinta yang tenang dan dewasa akan berbisik: “Aku membutuhkanmu karena aku mencintaimu.”

Pernyataan ini mengubah segalanya. Kebutuhan tidak lagi didasarkan pada rasa sepi atau kekosongan batin yang harus diisi oleh orang lain, melainkan lahir dari kepenuhan jiwa yang ingin dibagikan.

Cinta seperti ini lebih stabil, lebih dewasa, dan lebih mampu bertahan melewati badai kehidupan.

Ketika badai datang—entah itu berupa perbedaan pendapat, krisis finansial, atau cobaan kehidupan lainnya—cinta yang tenang tidak akan lari atau menghancurkan. Ia akan duduk bersila di tengah badai, membuka ruang diskusi, dan mencari jalan keluar bersama-sama.

Sebuah Seni Menemukan Damai

Pada akhirnya, cinta sejati tidak pernah mencuri energi Anda hingga habis tak bersisa.

Ia justru menjadi oase tempat Anda memulihkan diri dari kerasnya dunia.

Cinta yang tidak memaksa, cinta yang melepaskan ikatan obsesi, dan cinta yang memberikan ruang untuk bernapas—cinta yang seperti inilah yang disebut sebagai “seni mencintai”.

Ia tidak riuh, tidak menuntut panggung, dan tidak perlu pembuktian berlebihan. Ia hanya hadir—menghangatkan di kala dingin, menenangkan di kala kalut, dan menghadirkan kedamaian yang menetap, jauh di palung hati.[]

image_print
  1. Penikmat Kopi di Gerobak Arabica – Fresh Roasted Coffee[↩]

Bagaimana reaksi Kamu?

Komentar Terbaru (1)

  • Ray•

    menenangkan, bukan menguras
    membebaskan, bukan membelenggu
    menguatkan, bukan mengendalikan

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.