“Pengelolaan limbah dari hulu hingga hilir di Aceh akan memberi dampak ekonomi yang lebih besar bagi daerah,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Abu Salam juga mengungkapkan pihaknya sempat mendapat tekanan dari sejumlah pihak agar mesin insinerator tidak dioperasikan. Bahkan, menurut dia, ada tawaran imbalan agar limbah medis Aceh tetap dikirim ke luar daerah.
Namun, tawaran tersebut ditolak karena pihaknya ingin pengelolaan limbah dilakukan secara terbuka dan sesuai aturan.
“Kami ingin pengelolaan limbah ini berjalan sehat sesuai aturan. Tidak ada monopoli. Semua pihak harus duduk bersama demi kemajuan Aceh,” ujarnya.
Hadirnya fasilitas pengolahan limbah B3 di Aceh tersebut juga dinilai akan memberikan efisiensi bagi rumah sakit, karena biaya pengelolaan limbah medis diperkirakan turun hingga 30 persen dibandingkan jika pengolahan dilakukan di luar provinsi. []





























































































Beri Komentar