Karena itu, ia mengingatkan Prabowo agar berhati-hati membaca arah dinamika politik ke depan.
“Prabowo adalah presiden. Mandat rakyat ada di tangannya. Jangan sampai pusat gravitasi kekuasaan perlahan bergeser ke kelompok lain yang punya agenda jangka panjang berbeda,” tegasnya.
Edy juga menilai sejarah politik Indonesia menunjukkan banyak pemimpin akhirnya terjebak dalam lingkar kekuasaan yang awalnya dianggap sekutu politik.
“Hari ini hubungan Prabowo dan Jokowi terlihat mesra. Tapi politik bukan soal perasaan. Ini soal kepentingan dan keberlanjutan pengaruh,” tulisnya.
Ia menegaskan rakyat memilih Prabowo untuk memimpin Indonesia, bukan menjadi jembatan bagi konsolidasi dinasti politik baru.
“Jika tidak hati-hati, demokrasi perlahan bisa berubah jadi kerajaan modern. Pemilu tetap ada, rakyat tetap datang ke TPS, tetapi kekuasaan hanya berputar di lingkar darah yang sama,” pungkasnya.





































































































Beri Komentar