Mereka juga memanfaatkan jatah bagasi pesawat 30 kilogram untuk membawa pulang berbagai oleh-oleh seperti kue lapis dan camilan khas Indonesia.
Noraini menilai nilai tukar yang menguntungkan membuat perjalanan belanja ke Jakarta tahun ini terasa lebih menarik.
Pandangan serupa disampaikan Marcus Tan (38) yang singgah di Jakarta selama tiga hari setelah berlibur di Nusa Tenggara Timur bersama teman-temannya sebelum kembali ke Singapura.
“Seratus dolar Singapura terasa sangat bernilai di sini. Saya bisa membeli lebih banyak barang, makan lebih banyak, dan tetap merasa mengeluarkan uang lebih sedikit dibandingkan jika melakukannya di Singapura,” ujarnya.
Saat ini, nilai tukar dolar Singapura berada di kisaran Rp13.800, mendekati rekor tertinggi terhadap rupiah.
“Bahkan untuk merek yang juga tersedia di Singapura, kadang tetap lebih murah di sini setelah dikonversi ke dolar Singapura,” tambah Tan.
Sementara itu, Nur Syarifah (29) yang berkunjung ke Jakarta bersama lima teman dan seorang balita berusia tiga tahun mengatakan mereka tetap merasa nyaman datang ke ibu kota meski ada laporan mengenai meningkatnya kejahatan.
Mereka mengisi agenda perjalanan dengan mengunjungi restoran viral dan kafe populer di TikTok yang tersebar di berbagai kawasan Jakarta, termasuk Kemang dan SCBD.
“Kami tidak akan datang jika benar-benar merasa tempat ini berbahaya, apalagi ada balita dalam rombongan. Dibandingkan beberapa kota di Eropa yang terkenal dengan kasus pencopetan, Jakarta masih terasa cukup aman bagi kami,” ujar Syarifah.
Singapura merupakan penyumbang wisatawan terbesar kedua ke Indonesia setelah Malaysia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan lebih dari 320.000 wisatawan Singapura berkunjung ke Indonesia pada kuartal pertama 2026.
Meski demikian, bahkan wisatawan Singapura yang mengaku tetap nyaman berkunjung ke Jakarta mengakui bahwa berbagai insiden kejahatan tersebut membuat mereka lebih waspada saat berada di ruang publik.
“Tentu saja kita tetap harus siaga,” kata Syarifah. “Tapi kami tidak merasa tidak aman saat berjalan-jalan di mal atau kawasan kafe di sini. Sejujurnya, kemacetan lalu lintas masih lebih membuat stres dibandingkan kejahatan.”










































































































