UPDATE

EKONOMIFINANSIAL

Terungkap, Perselisihan Perry Warjiyo dan Purbaya Sebelum Gubernur BI Itu Mundur

  Mundurnya Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo secara tiba-tiba pada awal pekan ini memicu spekulasi banyak pihak. Pertanyaan muncul tentang apa yang menyebabkan Perry mundur mengingat selama ini ia cukup bertahan terhadap beragam kritikan.  

Menurut tiga sumber Reuters, ada perselisihan antara Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Perry Warjiyo mengenai strategi pertumbuhan ekonomi sebelum pengunduran diri itu.  Ketegangan bahkan dilaporkan terjadi selama berbulan-bulan di antara keduanya. 

Advertisements
Selamat Hari Tentara Nasional Indonesia ke-81

“Purbaya menginginkan likuiditas yang melimpah, tetapi situasi ini akan memberikan tekanan pada rupiah,” kata orang pertama yang menggambarkan Purbaya memiliki pengaruh signifikan terhadap presiden.

Juru bicara Purbaya, presiden, dan Bank Indonesia tidak mengomentari sumber itu. Perry Warjiyo tidak dapat dihubungi untuk dimintai keterangannya. Kementerian Keuangan menolak berkomentar.

BI telah menaikkan suku bunga 100 basis poin sejak Mei lewat kebijakan pengetatan yang dimaksudkan untuk membuat investasi dalam aset rupiah lebih menarik bagi investor asing. Kebijakan itu diambil untuk mendukung penguatan nilai mata uang rupiah.

Bank biasanya menjaga kebijakan likuiditas relatif ketat selama masa depresiasi rupiah untuk mencegah penggunaan kelebihan likuiditas agar tak terjadi spekulasi.

Sementara Purbaya secara teratur mengkritik kebijakan BI sejak ia diangkat pada September tahun lalu. Ia ingin mendorong pertumbuhan ekonomi G20 senilai $1,4 triliun menuju pertumbuhan 8% dari pertumbuhan stabil 5% sesuai janji kampanye utama Prabowo.

Sumber kedua kepada Reuters mengatakan, BI sudah waspada terhadap upaya Purbaya yang sering memindahkan cadangan kas ke bank-bank milik negara sehingga dapat menyebabkan ketidaksesuaian jatuh tempo.

Purbaya menyuntikkan 200 triliun rupiah ($11,11 miliar) ke bank-bank milik negara beberapa hari setelah ia menjabat, dalam apa yang disebutnya sebagai kebijakan paling signifikan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Dana tersebut sebelumnya dikelola di bank sentral.

Pada awal Juni, Purbaya setuju dengan Perry Warjiyo untuk memindahkan dana tersebut sepenuhnya kembali ke bank sentral sebagai bagian dari dukungannya terhadap kebijakan BI dalam mempertahankan rupiah yang jatuh.

Namun, sekitar dua pekan kemudian, ia kembali menyuntikkan dana negara ke bank-bank tersebut dengan alasan bahwa kebijakan awalnya sudah benar.

“Meskipun para pejabat BI tidak setuju dengan keputusan Purbaya untuk memberikan likuiditas berlebihan, para pejabat di bank sentral juga menganggap penarikan dana secara tiba-tiba berbahaya sehingga dapat memicu lonjakan suku bunga antar bank, sehingga mempersulit kebijakan BI,” kata orang kedua tersebut.

image_print

1 2 3

Bagaimana reaksi Kamu?

Beri Komentar

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.