Karhutla juga berpotensi meningkatkan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), merusak ekosistem dan habitat satwa, serta menimbulkan polusi lintas batas.
Menurut Daniel, dampak kabut asap bahkan telah dirasakan negara tetangga. Malaysia disebut menutup sementara ratusan sekolah akibat kabut asap dan menyatakan siap membantu penanganan karhutla di Indonesia.
Sementara itu, Singapura telah mengingatkan warganya mengenai potensi ancaman kabut asap akibat meluasnya karhutla di Sumatera dan Kalimantan.
Minta Pemadaman Diperkuat
Daniel mendesak pemerintah mempercepat penanganan karhutla dengan mengerahkan sumber daya secara masif.
“Kami mendesak pemerintah segera mengerahkan pasukan pemadaman secara masif dengan memperkuat operasi water bombing, serta menerjunkan tim darat gabungan dari Manggala Agni, BPBD, dan TNI/Polri yang difokuskan pada titik-titik api di lahan gambut yang berisiko menyebar ke kawasan sekitar bandara,” ujarnya.
Ia juga mendorong percepatan operasi modifikasi cuaca melalui koordinasi antara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
“Kami juga mendorong percepatan operasi modifikasi cuaca melalui koordinasi intensif antara BNPB, BMKG, dan BRIN. Opsi ini perlu segera dieksekusi selagi masih ada potensi awan sebelum kondisi kemarau mencapai puncaknya,” lanjut Daniel.
Anggota DPR dari Kalimantan Barat itu juga menyoroti kesiapan pemerintah dalam menghadapi karhutla yang dinilai menjadi bencana berulang setiap tahun.
“Saya juga mempertanyakan bagaimana mitigasi yang dilakukan pemerintah karena Karhutla ini kan bencana yang selalu terjadi setiap tahunnya. Kenapa menunggu sampai besar baru kemudian ditangani secara serius,” katanya.
Warga Ikut Padamkan Api
Daniel turut menyoroti aksi mandiri masyarakat dalam membantu memadamkan titik api. Ia mencontohkan video yang beredar di media sosial mengenai seorang remaja berusia 15 tahun bernama Rudiansyah yang membantu ayahnya memadamkan karhutla di Palangkaraya setiap pulang sekolah.
Dalam video tersebut, remaja itu disebut mengenakan kostum Superman saat membantu memadamkan api.
“Banyak masyarakat yang geregetan sehingga bergerak sendiri memadamkan Karhutla. Di Kalbar, bahkan ibu-ibu yang turun. Seperti di Sambas namanya Srikandi, di Ketapang ada kelompok ibu-ibu bernama The Power of Mama. Saya kagum sekali, mereka sangat hebat dan berani,” ungkap Daniel.
Meski mengapresiasi keterlibatan masyarakat, Daniel mengingatkan warga yang ikut membantu pemadaman agar memperhatikan keselamatan diri dan menggunakan perlengkapan yang memadai.





























































































Beri Komentar