BANDA ACEH -Pengacara Kamaruddin Simanjuntak mengadukan Tim Penyidik Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah ke Komisi Kejaksaan Republik Indonesia (Komjak RI). Kamaruddin meminta perlindungan hukum dan keadilan ke Komisi Kejaksaan untuk dilakukan audit investigasi atas kasus hukum yang menimpa kliennya.
“Kami datang ke sini (Komisi Kejaksaan) untuk meminta keadilan atas klien kami. Diduga telah menjadi korban kriminalisasi oleh penyidik khusus korupsi pada Kejati Jateng,” ucap Kamaruddin Simanjuntak kepada awak media di Kantor Komisi Kejaksaan, Jumat (18/11).
Ia datang ke Komisi Kejaksaan RI bersama kliennya, Agus Hartono dari PT Citra Guna Perkasa. Agus merupakan eks debitur/nasabah Bank Mandiri.
Pengacara berkumis lebat ini menjelaskan, kliennya secara pribadi bertindak sebagai Avalis atau Penjamin atas utang piutang perusahaan dalam pemberian Fasilitas Kredit oleh Bank Mandiri selaku Kreditur.
“Klien kami menyerahkan beberapa bidang objek tanah dan bangunan bersertifikat untuk dinilai oleh Tim Penilai Aset atau Jasa Appraisal yang ditunjuk oleh Bank Mandiri,” ujarnya.
Selaku Kreditur, pihak Bank Mandiri telah menilai beberapa bidang objek tanah dan bangunan milik kliennya dengan penilaian sangat laik.
“Dan pascadinilai oleh Tim Penilai Aset atau Jasa Appraisal yang ditunjuk oleh Bank Mandiri laik untuk mendapatkan utang/fasilitas kredit, dan pascamenjalani berbagai macam proses dan seleksi, maka pinjaman pun telah dicairkan ke perusahaan,” jelasnya.
Kamaruddin menambahkan, dalam proses selanjutnya kliennya telah melepaskan saham dan pengurusan pada Perusahaan Debitur dari Bank Mandiri, sehingga secara hukum, tidak ada lagi hubungan hukum antara kliennya dengan perusahaan selaku debitur dari Bank Mandiri.
“Namun terkait objek tanah dan bangunan yang menjadi Jaminan Utang Piutang Bank Mandiri selaku Kreditur, tetap melekat dan/atau tidak dilepaskan oleh Klien kami,” imbuhnya.
Dalam perjalanan, kata Kamaruddin, diduga terjadi sesuatu hal di mana perusahaan selaku debitur dari Bank Mandiri, telah dimohonkan pailit oleh pihak ketiga.
“Diduga perusahaan dimaksud juga memiliki utang piutang dengan pihak ketiga bank lainnya,” sebut Kamaruddin.
Akan tetapi, pengurusan asset budel perusahaan pailit dimaksud telah jatuh ke tangan Kurator untuk menjual dan/atau melelang seluruh asset-asset perusahaan guna dibagikan kepada para Kreditur.
“Dengan kata lain, pengurusan semua budel perusahaan pailit telah berada di tangan kurator, bukan lagi di tangan pengurus perusahaan dan/atau bukan ditangan klien kami,” paparnya.





































































































Beri Komentar