Meskipun kena ‘semprit’ toh hasil akhirnya tetap sama, sang putera (yang dalam istilah kerajaan ‘sang pangeran’) tetap melenggang disandingkan dengan capres Prabowo Subianto lewat sebuah super lobi tingkat dewa yang bagi sementara pihak sulit dicerna.
Dengan formasi dukungan enam partai lewat cawe-cawenya maka Jokowi telah menunjukan kegemilangannya dalam menggunakan instrumen kekuasaan secara sah meskipun belum tentu memuat kebenaran atas tujuan konstitusi negara republik ini.
Tetapi yang jelas saat ini skor menjadi berimbang empat-empat dan siapakah yang akan mendapatkan angka lima, kita tunggu hasil Pilpres AGP 2024 yaitu antara Anies-Ganjar-Prabowo.
Apakah sang pangeran akan menjadi salah satu bagian suksesi kepemimpinan masa depan bangsa dan negeri ini lewat bapak asuhnya bila terpilih sebagai Presiden ke delapan ? Menarik dan unik sekali Pilpres berbenih dendam di hati ini, namun senantiasa dibantah lewat narasi “ah ini dinamika politik bung”.
(Penulis adalah pemerhati sosial politik)


































































































Beri Komentar