Sebelumnya Cornelis De Houtman telah membunuh Syahbandar Aceh yang tengah muhibah ke kapal Belanda. Laksamana Malahayati yang marah langsung membunuh Cornelis De Houtman dan menangkap semua orang Belanda awak kapal.
Cornelis de Houtman tewas di tangan Laksamana Malahayati, dibunuh di atas geladak kapal Belanda dengan perang tanding satu lawan satu, dalam pertempuran dengan pasukan Inong Balee yang dipimpin Malahayati pada 11 September 1599.
Adik Cornelis De Houtman yaitu Frederick De Houtman bersama seluruh awak kapal ditawan oleh Laksamana Malahayati.
Akibatnya Prints Maurits dari Belanda meminta belas kasihan pada Sultan Aceh, maka orang Belanda kemudian dibebaskan.
Akhirnya Aceh dan Belanda menjalin hubungan diplomatik yang baik, utusan Aceh bahkan datang ke Belanda, dan Negara Aceh menjadi negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan Belanda dari Spanyol.
Laksamana Malahayati juga berperan penting dalam banyak hal di lingkungan Istana Darud Donya Kesultanan Aceh Darussalam.
Dalam Hikayat Aceh, yang kini sudah diakui UNESCO, pihak Portugis meminta Benteng Kuta Biram (Kuta Leubok) kepada Sultan Alaiddin Riayat Syah Sayyidil Al Mukammil. Namun sebelum itu dilakukan perlombaan kuda antara Perkasa Alam (Sultan Iskandar Muda) dan penunggang kuda dari Portugis.
Perkasa Alam kemudian memenangkan perlombaan berkuda dan dipuji oleh kakeknya yaitu Sultan Sayyidil Mukammil. Setelah itu pihak Portugis menyerahkan hadiah sangat banyak dan meminta agar diberikan Kuta Leubok dan Kuta Inong Balee benteng terkuat di Aceh.
Sultan Sayyidil Mukammil menolak mentah-mentah permintaan Portugis, dan mengatakan bahwa Kuta Leubok dan Kuta Inong Balee yang dijaga Laksamana Malahayati adalah benteng yang menjaga Kuala Aceh, utusan Portugis yang bernama Dong Dawis dan Dong Tumis kemudian kembali dengan tangan hampa dan malu.
Kuala Aceh yang dijaga Laksamana Malahayati adalah kuala Aceh yang sekarang terdapat di Gampong Pande Bandar Aceh Darussalam. Kawasan ini adalah pelabuhan besar yang sangat ramai dan termahsyur di dunia, merupakan pusat kapal masuk ke ibukota, di mana berdiri Istana Kuta Farushah Pindi Gampong Pande.
Kawasan Kuta Farushah Pindi sebagai Titik Nol Kesultanan Aceh Darussalam di Gampong Pande kini juga sedang diusulkan kepada UNESCO, agar ditetapkan sebagai Kota Tua Warisan Dunia, setelah Hikayat Aceh Sultan Iskandar Muda dan Hari Lahir Laksamana Keumalahayati.[*]
Artikel Hari Lahir Laksamana Malahayati jadi Perayaan Internasional, Cucu Sultan Aceh: Terima Kasih UNESCO pertama kali tampil pada HARIANACEH.co.id.































































































Beri Komentar