ADVERTISMENT
LINGKUNGAN
LINGKUNGAN

Wajah Perhutanan Sosial di Aceh

Jadilah suatu hari di tahun 2009 itu Sumini berangkat bersama suami dan teman-teman suaminya ke hutan Damaran. Ternyata yang diceritakan suaminya bukan bualan belaka. Benar banyak sekali anggrek berbagai jenis dan warna, benar pula perihal aneka jenis hewan yang hidup di dalam hutan Damaran “begitu sampai di sana enggak ada satu pun hewan yang menyerang, ibu melihat gimana hewan-hewan itu menerima kedatangan kami,” kenangnya.

Hari itu kali pertamanya naik gunung dan masuk hutan, ia menyaksikan lebih dari yang diceritakan sang suami: savana hijau yang luas, pepohonan rimbun, air terjun panas yang tentu saja menggembirakan di tengah dinginnnya udara Bener Meriah, dan tentu saja pohon-pohon tumbang pasca ditebang dan titik-titik hutan lainnya yang dijadikan kebun tanpa pohon kayu.

Alih-alih teringat dengan anggrek yang bisa dijual, sepulangnya dari gunung pikirannya justru dipenuhi dengan gambaran hutan Damaran yang indah dan lahan-lahan terbuka penuh kayu tumbang itu. “Makanya sering longsor dan banjir di kampung,” tuturnya menyimpulkan.

Berita Lainnya:
Kesepakatan Penanganan Sungai Diduga Dilanggar, Keuchik Mns Lhok: Aparat Sudah Beberapa Kali Turun Tangan

Ia akhirnya mengajak ibu-ibu di Desa Damaran ikut naik ke gunung melakukan patroli. Bersama rombongan suaminya, Sumini dan beberapa perempuan yang ikut menandai titik-titik yang rusak dan mencari dalangnya. Juga membuat jalur menuju puncak gunung Damaran, jalur ke air panas, jalur menuju anggrek, dan jalur menuju wilayah hutan yang sedang dirambah.

2011 saat sedang melakukan patroli dengan teman-temannya, Sumini mendapati wilayah hutan yang sedang digunduli ternyata dilakukan oleh tetangganya sendiri. Si tetangga memperistri perempuan asal Tapaktuan, Aceh Selatan dan dari sanalah dia membawa pulang gergaji mesin.

Suatu sore di tahun 2011 itu, saat si tetangga sedang menyeruput kopi sore Sumini datang dan memberitahu untuk tidak menebang pohon “Itu kawasan hutan lindung, makanya lah kita di Damaran ini banjir, bang,” dari suaminya ia tahu bahwa hutan yang ditebang masuk dalam kawasan hutan lindung Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL).

Berita Lainnya:
Ini Daftar Hewan yang Selamat dari Kepunahan Dinosaurus 66 Juta Tahun Lalu

Ucapan Sumini itu tak digubris. Hari berikutnya Sumini datang lagi, kali ini bersama Sujito, membawa serta ponsel jadul miliknya. Si tetangga ia tanyai biodata diri, ia mintai KTP.

“Untuk apa ini bang?” tanya si tetangga.

“Enggak apa-apa, untuk data,” kata Sujito, di sampingnya Sumini sedang mencatat di ponsel jadul.

Entah karena sulitnya mencari informasi benar tidaknya pengumpulan data itu, aktivitas tebang kayu si tetangga dan istrinya berhenti. Mereka kembali ke Tapaktuan.

Dari patroli yang dilakukan mereka juga menemui hutan yang berubah menjadi kebun kopi. Pohon-pohon seperti pinus, gesing dan grupel ditebang.

image_print
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Logo
Suara Netizen
Memuat konten netizen...
ADVERTISMENT
Update Terbaru
ADVERTISMENT
Orinews Logo
Update Terbaru
Memuat Artikel...
MEMUAT BERITA...

Reaksi

Berita Lainnya